Wednesday, March 21, 2018

REDDIT #8: HADIAH SEMPURNA


“The Perfect Gift” (Special Valentine)

Penulis: ThePenOfBenMears


Apa yang membuat masa SMA-mu seperti neraka? Teman yang gemar membully-mu?

Well, coba tebak. Nasibku lebih buruk. Aku bahkan tak punya satupun teman.

Aku memang tak suka bergaul dengan siapapun. Dan mereka-pun mengabaikanku. Win-win solution sih kalau menurutku.

Namun itu semua berubah pada hari aku bertemu Emily.


Seperti kebanyakan hari lainnya, hari itu dimulai dengan buruk. Salah satu temanku yang bertubuh besar tanpa sengaja mendorongku ke loker, hingga semua buku dan kertasku berjatuhan kemana-mana. Ketika aku membungkuk untuk mengambilnya, di sanalah dia. Dengan rambut coklatnya yang panjang, mata biru yang simpatik, dan senyum penuh pengertian, dia menawarkan bantuanku.

"Aku Emily," katanya dengan suara yang manis dan bernada tinggi.

"A ... aku Alex," aku tergagap, bertanya-tanya apakah aku harus menjabat tangannya atau semacamnya,. Aku bahkan hampir menjatuhkan buku-bukuku lagi saat aku bersalaman dengan canggung.

Dia ternyata sekelas denganku dan sangat ramah. Kami mulai duduk bersama saat makan siang - dia punya teman-teman lain, tetapi dia selalu makan siang bersamaku setiap hari.

Kami berbicara tentang segala hal - siapa dia suka di kelas, siapa yang tidak, curhat tentang guru kalkulus yang galak dan kerap memarahinya, bagaimana ayahnya baru saja kehilangan pekerjaannya dan lebih kejam dari biasanya, bagaimana sikap ibunya berubah lebih dingin setelah harus bekerja paruh waktu, betapa adik kecilnya sangat menganggunya, dan masih banyak lagi.

Aku kemudian menyadari Hari Valentine akan segera datang. Bukannya kami pacaran atau apa, tapi aku ingin memberinya sesuatu yang istimewa untuk membuktikan kepadanya bahwa aku menghargai persahabatan kami. Suatu malam, aku datang dengan ide yang sempurna! Aku bergegas ke mejaku dan mencatatnya.

Ketika hari itu tiba, aku membuka buku catatanku, menghafal catatan itu, menaruh hadiah Emily di ranselku dan berangkat ke sekolah. Di tengah-tengah kelas kalkulus (dia membenci kelas itu), aku memberikan kertas itu kepadanya sembari tersenyum.

Dia membuka surat itu dan langsung tersentak ngeri. Aku bertanya-tanya mengapa dia tidak menyukainya saat mengeluarkan pistol dari ranselku, menembaki Mr. Thompson yang sangat ia benci itu. Setelah mengingat daftarnya, aku bergerak cepat, menembaki anak-anak yang aku tahu tidak dia sukai, berhati-hati untuk tidak menembak orang lain di tengah semua teriakan dan kekacauan itu.

Ketika beberapa guru dan polisi akhirnya menghentikanku, mereka mencengkeramku ke belakang mobil polisi. Dari sudut mataku, aku melihat Emily terisak dan itu menghancurkan hatiku. Apakah dia tidak menyukai hadiahku? Aku sudah hampir menghabisi semua orang yang masuk daftar ...

"Tunggu saja sampai kamu pulang!" aku berteriak padanya saat mereka membawaku pergi. Mungkin kejutan yang kutinggalkan di sana akan membuatnya tersenyum lagi.

7 comments:

  1. Si Aku dasarnya dah jadi korban bully, punya hasrat membunuh.nah, datang si Emily, yg menjadi alasan sbg pentalur hasrt si aku. ��������

    ReplyDelete
  2. Gila.. apaan tuh 'hadiah' di rumahnya? Mayat adik ama ibunya? Tapi si aku bilang bhampir semua, berarti masih ada yang belum dia bunuh. Ayahnya? Psiko banget

    ReplyDelete
  3. Jadi inget novelnya Lexie Xu yang Johan Series.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Si Johan emang selalu punya antek-antek :(

      Delete
    2. Johan ternyata belum mati...

      Delete
  4. School Shooting? Jangan jangan yanh ditinggal di sekolah itu bomb?

    ReplyDelete
  5. tunggu aja kamu pulang? mungkin si adik sudah di bunuh juga... kan si adik mengganggu katanya..ahahaha

    ReplyDelete