Wednesday, March 21, 2018

REDDIT #21: SINYAL CAHAYA BIRU




“The Blue Light Signal”

Penulis: MechDog2395


"Lampu biru di terowongan 346 telah padam." Frank berkata sambil menyerahkan surat perintah kerja kepadaku.

Ini adalah yang ketiga kalinya bulan ini.


Lampu biru adalah indikator untuk panggilan darurat di terowongan kereta bawah tanah. Sesekali lampu itu padam. Tugas untuk memperbaikinya jatuh padaku karena akulah satu-satunya yang tahu caranya. Aku menyiapkan peralatanku, juga sepatu boot tebalku, helm kerja, senter, rompi oranye dan banyak hal lainnya ... belum lagi lampu pengganti.

Peron kereta bawah tanah sibuk dengan orang-orang yang pulang dari kerja. Tidak ada yang memperhatikanku saat aku melempar tasku dan mulai mengepaki barang-barang. Aku hanyalah pekerja kereta bawah tanah. Anak-anak terkadang akan menatapku dan aku hanya mengedipkan mata. Orang tua tidak menyadarinya. Tidak ada lagi yang mau untuk berpaling dari ponsel mereka di zaman ini. Tidak ada yang peduli padaku, selama kereta api mereka berjalan tepat waktu.

Aku melompat turun dari peron ke rel. Aku pernah ke sini sebelumnya, jadi aku harus cepat. Berjalan ke terowongan ini, terasa seperti berjalan ke dalam sauna. Panas sekali di sini, namun aku sudah terbiasa. Aku menuju ke terowongan 346 dengan berjalan hati-hati di atas rel kereta api.

Ada sosok di depan.

"Halo?" Aku berseru sambil mengangkat senterku.

Siapa pun orang itu dengan cepat menyelinap ke salah satu ceruk di sepanjang dinding terowongan dan berjongkok di sana. Ia terlihat seperti anak kecil, tapi aku tidak tahu apakah itu laki-laki atau perempuan.

Saat aku mendekat, anak itu mendongak.

Itu bukan anak kecil.

Wajahnya cacat dengan daging yang berkerut, seperti bekas sayatan. Lebih buruk lagi, matanya besar dan hitam ... seperti hiu.

Aku dengan cepat membuka tas  dan meraih ke dalamnya.

Aku menarik keluar gadis kecil yang kuculik dari peron kereta bawah tanah tadi. Membius mereka dengan kloroform adalah cara terbaik untuk membuat mereka tak berdaya. Mencoba mengangkut tas dengan anak yang menggeliat di dalam bukanlah tugas yang mudah. Lebih berat lagi harus pergi secepat mungkin sebelum ibunya menyadarinya.

Aku menyerahkan gadis itu ke makhluk dengan kepala seperti sarang lebah itu. Ia mencengkeram gadis itu dengan lengan panjang seperti laba-laba dan mulai merayap pergi di dinding melengkung, membawa gadis itu ke suatu nasib yang tidak diketahui. Aku sama sekali tidak ingin tahu apa yang mereka lakukan dengan anak-anak itu. Aku tak mau bermimpi buruk selama semalaman.

Makhluk-makhluk  di terowongan itu memberi tanda dengan merusak salah satu lampu biru. Jika itu terjadi, sudah tugasku untuk memberi mereka anak kecil.

Itulah kesepakatannya.

Mungkin kamu bertanya, kenapa aku melakukannya? Kamu tidak akan menyukai jawabanku. Jika orang tahu tentang hal-hal itu, mereka akan menutup terowongan.

Dan aku takkan punya pekerjaan.

Seperti aku katakan tadi, semua orang ingin kereta mereka berjalan tepat waktu.


2 comments:

  1. Ee buset, sebulan tiga kali, aturan tuh mahluk udah gemukgemuk. Awokawokawok. NauGi, Batayul, ayo, mampir sini

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebulan 3 kali mana bisa gemuk. sehari tiga kali baru dah gemuk

      Delete