EPILOGUE OF DOOM: THE CIRCLE GAME
Air mata mulai mengalir di pelupuk mata Raka.
“Maafkan aku Nadya, aku ingin bertemu denganmu karena aku ingin meminta maaf ... maafkan aku ...”
Dan pemuda itupun menghembuskan napasnya yang terakhir.
***
EPILOGUE OF DOOM: THE CIRCLE GAME
Air mata mulai mengalir di pelupuk mata Raka.
“Maafkan aku Nadya, aku ingin bertemu denganmu karena aku ingin meminta maaf ... maafkan aku ...”
Dan pemuda itupun menghembuskan napasnya yang terakhir.
***
THE WITCH TRIAL
Aku mengendap-endap di menara inkuisitor. Apa yang kulakukan di sini, pikirku. Namun aku tak bisa membiarkannya begitu saja. Siapapun yang ada di menara ini, ia memerlukan pertolongan. Mungkin saja itu Hazuki. Ah iya, setelah ini aku harus mencarinya. Ia sudah pernah menyelamatkan dan ini adalah saat yang tepat untuk membalas budi.
CHATEAU OF INQUSITORS
Dinding benteng kota Avignon sudah terlihat di depan mata kami. Kendaraan tempur baja hingga tank-tank artileri terlihat berjejer di depan Chateau Palais de Papes. Tak terlihat pasukan, pasti mereka juga gentar dengan apa yang berkeliaran di luar sana.
“Siapa kalian? Berhenti atau kami akan tembak!” terdengar suara dari atas kami. aku mendongak dan melihat sebuah megaphone di atas gerbang.
“Tenanglah, kami bukan indigo seperti mereka. Kami masih sehat.”
ARMY OF THE DAMNED
Aku segera membelokkan mobil ke arah lain, mencoba memutar balik, namun terlambat. Mereka telah mengepung kami.
“Astaga, bagaimana mereka bisa menjebak kita secepat ini?” tanyaku panik. “Jumlah mereka amat banyak!”
“Karena aku yang menyuruh mereka ke sini.” bisik Venus dengan enteng.
“Apa?”
SUMMER IN AVIGNON
Aku tahu telah memasuki wilayah Côte d’Azur begitu melihat hamparan pegunungan Chaîne des Alpilles dengan tamparan sinar matahari yang membekas di beningnya permukaan sungai Rhône. Kota Avignon, permata daratan Provence dari kejauhan tampak di kaki pegunungan, beradu dengan rerumputan tanah yang masih basah dibasuh hujan malam tadi. Langit masih membentang cerah dengan awan putih bak layar kapal yang tengah berenang di langit yang sebiru laut.
PROLOGUE OF FEARS: THE INDIGO VIRUS
Apa yang kudengar, apa yang kurasakan, apa yang kulihat, apa semua ini hanya halusinasiku saja?
Entahlah, namun aku selalu mendengar bisikan hingga raungan. Bukan, bukan di telingaku ... melainkan di dalam benakku, seolah-olah suara itu merayap dari kegelapan pikiranku.
Suara itu, para dokter menyebutnya sebagai “perditus spiritum” atau “lost souls”, jiwa yang hilang. Dunia kedokteran kini tak menyanggah lagi keberadaan jiwa, bahkan hantu, sebab kini mereka telah dibuktikan keberadaannya.