Thursday, October 15, 2015

SILENT HILL – DETOX: CHAPTER 5

REVELATION

by: Dave Cahyo

SH5 

“Mustahil kakek tua itu bisa ada di kamarmu semalam.” ujar Tante Maruko sambil menyiapkan sarapan.

“Tapi aku benar-benar melihatnya tadi malam, Tante.” Mizuki masih bersikeras.

“Dengar, Mizuki.” Maruko akhirnya menaruh peralatan masaknya dan memusatkan perhatiannya pada keponakannya yang bermasalah itu. “Aku tahu kakek itu. Aku pernah melihatnya dan ia memakai kursi roda. Jadi mustahil kan dia keluar dari rumahnya malam-malam, lalu memanjat pohon, dan melompat masuk ke kamarmu untuk mengawasimu semalaman?”

“Ya, kau nggak secakep itu by the way.” komentar Ken sambil bermain game. Mizuki hanya membalasnya dengan tatapan sinis, lalu kembali berdebat dengan bibinya.

“Tapi Tante, aku benar-benar melihatnya! Bagaimana jika ia ternyata kakek-kakek mesum yang pura-pura lumpuh lalu mengintai gadis-gadis remaja di lingkungan ini?”

“Mizuki sayang ...” bantah bibinya, “Bahkan bagi laki-laki muda sekalipun, susah untuk memanjat pohon itu dan naik ke kamarmu, apalagi di malam yang gelap seperti itu. Ken pernah mencobanya dulu saat ia pulang kemalaman, namun ia malah jatuh dan selangkangannya mengenai dahan pohon. Ya kan, Ken sayang?”

“Ya, itu sakit sekali!” katanya sambil masih memusatkan matanya ke PSP di tangannya.

“Tapi kudengar dari Ben ia pernah menjadi tentara .... mungkin saja ia pernah belajar akrobat atau apalah. Yang jelas, aku benar-benar melihatnya tadi malam!”

“Dengar sayang, kau tak bisa menyuruh Tante pergi ke rumah Ben dan menuduh kakeknya yang tidak-tidak. Lagipula kamarmu kan gelap, mungkin saja kau salah lihat. Mungkin saja itu Ken?”

“IDIH! Ngapaen aku ke kamarnya? Kurang kerjaan aja!” bantah Ken. Tiba-tiba ia mencium bau gosong dan mendongak. Ia langsung berteriak panik, “MAMA! KEBAKARAN!!!”

Maruko segera menoleh ke arah kompor dan sadar karena tidak berkonsentrasi ke masakannya tadi, kini wajannya terbakar.

“AAAAAAAAA!!!!” teriak Maruko panik, “MIZUKI GUNAKAN KEKUATANMU!!!”

Mizuki tak tahu harus berbuat apa, jadi ia mengarahkan kekuatannya ke keran air di wastafel dapur. Tiba-tiba air muncrat dari pipa itu tanpa terkendali, menghujani seisi dapur.

“AAAAAAAAAAA!!!! AAAAAAAAAAAAA!!!” situasi kini malah lebih kacau.

“AAAAA!!! PSP-KU!!!” teriak Ken dengan panik.

Dari luar, para tetangga hanya bisa menyaksikan dengan heran apa yang terjadi ketika melihat keluarga itu panik dan berlarian kesana kemari melalui jendela dapur.

***

 

Mizuki berdiri di depan pintu rumah Ben. Ia tak yakin apa yang harus ia katakan.

“Ben, kakekmu adalah pria mesum yang tadi malam mengintaiku saat aku sedang tidur di kamarku.”

Mizuki buruan menggeleng, “Itu akan membuat Ben tersinggung. Huh ... susah sekali sih. Benar-benar bangsat si Yuri keparat itu! ini semua nggak akan terjadi kalau saja dia bicara jelas sedikit! Aku akan langsung menamparnya kalau melihatnya lagi!”

Ketika Mizuki tengah berpikir keras bagaimana menangani masalah ini tanpa kehilangan gebetannya, tiba-tiba pintu di depannya terbuka.

Mizuki dengan heran melongok ke dalam.

“Halo? Ada orang di dalam?”

Mizuki memberanikan diri masuk ke dalam.

Ruang tamu tampak gelap, sementara itu ada sebuah tangga melingkar di dekat pintu, ciri khas rumah Barat.

“Ben? Kau ada di sini?”

Namun percuma. Suaranya seakan hanya menggema begitu membentur kehampaan ruangan itu.

Mizuki melihat sebuah lemari kaca yang tampak kuno. Bahkan semua yang ada di ruangan itu tampak kuno. Karpet, lampu, wallpaper, semua tampak jadul.

“Huh, Ben pasti bosan setengah mati tinggal di rumah tua seperti ini.”

Mizuki tertarik dengan sebuah foto yang dipajang dalam pigura mungil di dalam lemari itu.

Tampak seorang laki-laki berseragam militer yang tampan dengan rambut pelontos. Ia seorang bule, namun bersanding bahagia dengan seorang gadis Jepang cantik yang mengenakan kimono. Mizuki juga memperhaikan ada orang ketiga di foto itu, seorang anak perempuan yang tengah digendong tentara itu.

Ada sebuah tulisan di bawah foto itu. Mizuki harus memicingkan mata untuk membaca tulisan yang amat kecil itu. apalagi foto yang terlihat tua itu mulai luntur dimakan usia.

“Me, my wife, and my daughter, Alessa – October 1950”

“Putriku, Alessa?” jerit Mizuki dalam hati.

Tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki menuruni tangga. Mizuki yang mendengarnya segera meninggalkan rumah itu, tanpa menutup pintunya.

Tanpa ia ketahui, langkah kaki itu ternyata milik Alessa.

“Ia sudah tahu.” katanya kepada sosok di belakangnya, “Sudah kubilang pada Ayah untuk tidak gegabah. Sekarang kita terpaksa harus memulai malam inisiasi lebih awal.”

***

 

“Reina! Soichi!” seru Mizuki begitu melihat mereka berdua di sekolah.

Mereka berdua menoleh keheranan, “Ada apa Mizuki.”

“Kita harus segera keluar dari kota ini! Alessa benar-benar ada dan aku yakin begitu juga kutukan yang menyertai kota ini!”

“Apa? Lalu apa yang harus kita lakukan?” Soichi panik mendengarnya.

“Ayo kita curi salah satu mobil yang ada di sini dan kita kabur dari kota terkutuk ini!” saran Mizuki.

“Kita curi saja mobil milik kepala sekolah. Mobilnya bagus dan mahal jika dijual lagi!” usul Soichi.

“Kalian ini apa-apaan sih?” tanya Reina, “Lagian jika kita mau kabur, bagaimana dengan sepupumu?”

“Ah, biarkan saja dia mati di sini!”

“Hei! Aku dengar itu!” ternyata Ken sudah ada di belakang mereka dengan wajah kesal.

Tiba-tiba murid-murid dari sekolah itu muncul dan mengelilingi mereka berempat.

“Ha ... hai kawan-kawan ...” ujar Soichi gugup.

“Kenapa mereka mengepung kita seperti ini?” tanya Reina dengan ketakutan, “Dan muka mereka sama sekali tak bersahabat.”

“Kalian takkan bisa kabur dari sini.” tiba-tiba terdengar suara yang amat dikenal Mizuki.

“Ben?”

Mizuki melihat pemuda itu muncul di antara para murid. Ia menatap mereka berempat sambil tersenyum.

“Akhirnya kau tahu juga rahasia kota ini.” ujar Ben. Ia tampak berbeda dengan Ben yang ia kenal ketika pertama kali tiba di kota ini. Ben yang dulu terlihat ramah dan baik, sementara Ben yang ini .... seringai jahat tampak terlukis di wajahnya.

“Ka ... kakekmu, Richard ... dia adalah ayah Alessa ... “

“Ya, tepat sekali, Mizuki.” Jawab Ben, “Richard selalu mencari Alessa, putrinya. Namun ketika ia akhirnya menemukannya, semuanya sudah terlambat. Pembalasan dendam bagi kota .... semua itu masih belum cukup. Ia harus menemukan tubuh pengganti bagi Alessa, untuk membangkitkannya kembali menjadi manusia.”

“Dan kau selama ini membantu kakekmu!” seru Mizuki.

“Hahaha ... kau salah, Mizuki.” Ben menatap Mizuki dengan tajam, “Akulah Richard.”

“Apa?” Mizuki benar-benar terkejut dengan kenyataan yang baru terungkap ini.

“Pernahkah kau melihat aku dan kakekku bersama-sama, Mizuki? Tentu saja tidak sebab aku dan Richard adalah orang yang sama.”

“Kau? Kau adalah orang yang menyusup ke kamarku tadi malam?” tanya Mizuki tak percaya. “Na ... namun bagaimana itu mungkin? Kau terlihat sangat muda sedangkan Richard ...”

“Seorang kakek-kakek? Itulah wujudku yang sebenarnya. Namun aku menarik energi dari orang-orang yang tinggal di sini untuk membuatku tetap muda. Sayang, ketika energi itu mulai habis, maka aku akan kembali ke wujudku yang semula.”

“Energi?” Mizuki mulai menyadari sesuatu, “Astaga, energi yang kau maksud adalah energi kami? Pantas wajah kami menjadi pucat dan tubuh kami lemas. Kau ... kau yang menyerap energi kami?”

“Tak hanya aku, Mizuki. Namun juga semua saudaraku!” Ben melebarkan tangannya.

Mizuki baru tersadar, “Panti jompo ... kalian semua adalah penghuni panti jompo dimana Richard pernah tinggal. Dan kalian menggunakan energi kami agar kalian bisa kembali muda!”

“Kau adalah gadis yang cerdas, Mizuki. Keberadaanmu di sini benar-benar menguntungkan kami. Kini kami akan memiliki tubuh baru untuk dimiliki Alessa. Dan putriku akan kembali ke wujudnya sebagai manusia.”

“Alessa? Alessa sudah mati!”

“Tidak,” Ben, atau lebih tepat disebut Richard, menyeringai, “Ia ada di sini. Ia bahkan senantiasa bersama kalian. Namun kalian tak pernah sedikitpun menyadarinya.”

“Siapa? Siapa Alessa yang sesungguhnya?” teriak Mizuki.

“Siapa gerangan yang memanggilku?” suara wanita yang amat dikenalnya membisik di keheningan sekolah itu.

Mulut Mizuki menganga melihatnya.

“Kau adalah Alessa?”

 

TO BE CONTINUED

No comments:

Post a Comment