Thursday, October 15, 2015

SILENT HILL – DETOX: CHAPTER 3

 

POLTERGEIST

by: Dave Cahyo

  SH1_thumb2

Mizuki tengah berada di sebuah karnaval. Bukan karnaval yang riang, melainkan lapangan sepi dengan wahana-wahana permainan yang berdebu. Ia melangkah ke sebuah komidi putar dan menyentuh salah satu kuda kayunya. Tiba-tiba alat itu menyala. Lampu-lampu terang dan lagu riang mengiringi gerakan tarian kuda-kuda itu, naik turun mengikuti nada musik.

Insting Mizuki membawanya naik ke atas komidi putar. Ia menatap cermin yang tengah berputar di tengah wahana permainan.

Ia melihat wajahnya sendiri tengah memakai seragam sekolah Silent Hill.

Tiba-tiba ia melihat wajah di belakangnya.

“PERGI!!!” teriaknya.

Mizuki langsung terbangun. Ia menghapus keringatnya dengan piyamanya dan menatap ke sekeliling ruangan.

“Tenanglah, Mizuki!” katanya sembari menenangkan dirinya. Jantungnya masih berdegup kencang karena mimpi buruk tadi, “Itu hanya mimpi.”

Mizuki merasa haus dan memutuskan turun ke dapur. Di tengah jalan ia melewati kamar sepupunya dan mengintip sekilas ke dalam kamar itu. Berantakan, seperti kamar remaja cowok pada umumnya.

Ia menginjak anak tangga terakhir dan melihat televisi di ruang tamu masih menyala. Ia juga melihat sesosok tubuh terbaring di sofa. Mizuki mendekat. Rupanya itu Ken yang tengah tertidur. Mizuki menatap layar statik yang terpampang di layar televisi. Ah, pasti anak ini maen game sampai tengah malam lagi, pikir gadis itu.

Ia melihat seutas selimut tergeletak tak jauh dan memungutnya serta menyelimutkannya ke atas tubuh sepupunya yang tengah terlelap. Mizuki lalu meraih remote di atas meja dan berusaha mematikan televisi.

Aneh, tidak bekerja, pikir Mizuki. Apa rusak?

Mizuki akhirnya memutuskan untuk mematikannya dengan tombol off di pesawat televisi itu. Namun saat ia mendekatinya, ia menyadari sesuatu yang tak masuk akal.

Ujung kabel televisi itu tergeletak di atas lantai, sama sekali tak menancap di stop kontak.

“Apa-apaan ini ...”

Pikirannya yang waspada juga membuatnya teringat sesuatu, sesuatu yang membuatnya bergidik ketika menyadarinya.

Tadi ketika ia sekilas melewati kamar Ken yang terbuka, ia melihat sesosok tubuh terbungkus selimut di atas ranjang.

Jika itu Ken ... lalu siapa yang ada di sini?

Tiba-tiba televisi di depannya mati. Mizuki yang terkejut menatap ke arah layar yang kosong.

Sosok tubuh yang ada di atas sofa mulai bangkit, masih terbungkus selimut.

Mizuki mulai memejamkan mata, “PERGI!!!”

Lampu yang ada di atasnya mulai menyala dan padam secara bergantian. Ketika bola lampunya pecah, Mizuki akhirnya berani membuka matanya.

Ia menoleh dan melihat selimut itu tergeletak begitu saja di atas sofa. Tak ada siapapun di bawahnya.

Mizuki yang merinding segera pergi ke dapur, meneruskan niatnya untuk minum dan segera kembali tidur.

Namun ketika ia tiba di sana, situasinya sama. Lampu berkedip-kedip dan tiba-tiba semua yang ada di dalam dapur bergerak-gerak. Teko tiba-tiba mengeluarkan suara decitan keras, pintu-pintu lemari membuka dan isinya terlempar keluar, panci dan wajan yang digantung berderak-derak tak karuan, air keran tiba-tiba mengucurkan air.

“Tidak! TIDAAAAAK!!!” jerit Mizuki panik. Tiba-tiba lampu padam, kembali karena bohlam lampunya pecah.

Tiba-tiba lampu yang ada di lorong menyala, menerangi dapur dengan suasana remang-remang.

“Mizuki! Apa yang terjadi di sini?” bibinya, Maruko, tampak terkejut melihat dapurnya berantakan seperti kapal pecah, “Apa kau yang melakukan ini?”

“Tidak, Tante!” ujar Mizuki ketakutan, “Bukan aku yang melakukannya ... namun rumah ini ...”

“Mizuki, kembalilah tidur!”

***

 

Mizuki masih merasa bersalah ketika melihat tantenya masih menyapu pecahan-pecahan beling di lantai dapur. Namun sepertinya tantenya itu sudah memaklumi kekuatan yang dimiliki Mizuki (walaupun bukan Mizuki yang menyebabkan ini semua tadi malam). Hanya Ken yang menatapnya dengan wajah kesal, karena kini ia harus makan dengan piring dan sendok plastik yang dulu biasa ia gunakan saat ia berumur liima tahun. Bahkan ia harus minum dari botol dot (yang sudah dilepas dotnya tentu saja) karena hanya itu alat makan yang tersisa.

Namun Mizuki masih tak tahan berlama-lama di rumah ini. Jelas ada sesuatu di rumah ini. Apa benar perkataan Yuri bahwa rumah ini adalah bekas kediaman Alessa, si gadis penyihir itu? ia harus menemukan Yuri dan berbicara dengannya di sekolah.

Mizuki duduk dan dengan geli menatap alat-alat makan plastik berwarna pink dengan gambar Sailor Moon yang kini mewadahi sarapannya.

“Kau dulu makan dengan ini, Ken?” Mizuki menahan tawanya.

“Aku dulu suka Sailor Moon. Kenapa? Protes?”

***

 

Mizuki, sesuai dengan janji yang ia buat di hatinya, mencari Yuri di seluruh kelas, namun tak menemukannya. Apa benar ia bersekolah di sini?

Di jalan ia justru melihat Reina. Ketika hendak menyapanya, tiba-tiba ia melihat gadis itu terhuyung hendak jatuh.

“Astaga Reina!” Mizuki segera membantunya, “Apa yang terjadi denganmu?”

“Entahlah ... kepalaku pusing sekali.” ujar Reina lirih, “Tubuhku juga terasa lemah.”

“Biar kuantar ke klinik sekolah ya.”

Mizuki segera memapah Reina ke UKS dan disapa oleh seorang suster yang mengenakan sweater merah. Ia tampak muda dan cantik, hampir sama seperti murid-murid perempuan di sini.

“Buset ... bahkan susternya saja cantik dan sexy. Aku heran kenapa Soichi tidak pura-pura sakit saja di sini.” pikir Mizuki.

“Ah, kelelahan ya? Kasihan ... biar aku saja yang merawatnya di sini. Kau bisa kembali ke kelasmu.” ujar suster itu kepada Mizuki.

Ia segera membaringkan Reina ke atas tempat tidur dan menutup tirai yang ada di atas ranjangnya.

“Biarkan saja ia beristirahat dan jangan ganggu dia sampai pulang sekolah.”

***

 

Hingga pelajaran berakhir, Mizuki masih belum bisa menemukan Yuri. Ia mulai curiga, apakah gadis itu hanya ada dalam bayangannya? Apa dia hantu?

“Ah, sebaiknya aku menjenguk Reina saja sebelum pulang sekolah,” pikir Mizuki, “Apa ia sudah baik-baik saja ya sekarang?”

Mizuki segera beranjak ke klinik sekolah. Ia melihat meja suster sekolah sudah kosong, mungkin saja ia sudah pulang. Sementara itu sesosok tubuh juga masih terbaring di ranjang yang ditiduri Reina, masih tertutup oleh tirai putih.

“Reina, kau perlu kupanggilkan orang tuamu?” tanya Mizuki. Saat mendekat, pandangannya tanpa sengaja jatuh ke atas meja. Ia melihat secarik kertas dengan tanda tangan kepala sekolah. Mizuki membacanya sekilas dan terkejut.

Itu surat izin Reina untuk pulang cepat.

Namun jika Reina sudah pulang, lalu siapa yang ada di balik tirai ini?

Tanpa Mizuki sadari, dari belakangnya, seutas tangan terangkat dari balik tirai ke arah lehernya, bersiap mencekiknya.

Mizuki menoleh, namun tak terlihat apapun di atas ranjang.

“Apa ... apa itu tadi hanya halusinasiku?”

 

TO BE CONTINUED

No comments:

Post a Comment