“Found: Dog”
Penulis:
Saint_Entropy (dengan banyak perubahan)
Kami berumur sebelas tahun ketika aku dan adik
perempuanku menemukan tengkorak anjing itu di hutan.
Kami menemukan rumput mati yang ditata menyerupai
lingkaran dan tengkorak itu duduk di sana, tampak aneh di tengah lingkaran yang
tandus itu. Sebagai gadis tomboi yang tak kenal takut, Ashley segera terpikat
oleh tengkorak yang mengerikan itu. Sedangkan aku …aku membencinya sejak pertama
melihatnya, bahkan menolak menyentuhnya. Aku selalu merasa seolah-olah soketnya
yang kosong tengah memperhatikanku.
Meskipun kuprotes dengan tegas, Ashley bersikeras membawa
pulang tengkorak itu bersama kami. Bahkan ia membuat semacam altar untuknya di
ujung lemari. Ketika kami berbaring di tempat tidur kami malam itu, dipisahkan
oleh kegelapan yang menjurang di tengah ruangan bagi, mataku terus melayang ke
bentuk putih yang samar-samar itu. Aku tidak akan tidur nyenyak malam ini.
Keesokan paginya, tengkorak itu tiba-tiba memiliki rahang
bawahnya dan beberapa gigi yang hilang malam sebelumnya mulai tumbuh. Ashley
bersikeras bahwa tengkorak itu selalu utuh, tetapi dari suaranya, aku dapat
mengatakan bahwa dia tidak mempercayai kata-katanya sendiri. Aku sendiri yakin,
hanya ada kepala dan rahang atas saat tengkorak itu ditemukan.
Dia menghabiskan sepanjang hari menatap tengkorak itu, seakan-akan
terpesona dengannya. Aku mengatakan bahwa aku takut tidur dengan benda itu ada
di dalam kamar kami, namun ia masih menolak untuk membuangnya. Sebagai
gantinya, ia menutupinya dengan kain putih supaya aku tak perlu melihatnya.
Ketika bangun keesokan paginya, aku melihat Ashley
berdiri diam di depan lemari. Matanya yang lebar tampak kosong. Dia menatap
tengkorak itu. Setengah dari tulang belakang dan sebagian besar tulang rusuk
telah tumbuh semalam. Bahkan kulit disertai bulu rambut berwarna abu-abu mulai
tumbuh di atas tengkorak itu.
Dia berbalik dan matanya terkunci dengan mataku. Kami
tidak mengucapkan sepatah kata pun. Kami tak perlu saling berbicara untuk
bersepakat untuk akhirnya mengenyahkan benda itu dari keluarga kami.
Kami membungkus tulang-belulang itu di handuk mandi tua
yang compang-camping. Kami membawa bungkusan itu ke tempat terbuka di mana kami
menemukannya dua hari sebelumnya. Kami lalu menguburnya di antara rumput mati
dan cahaya pucat yang mengalir dari pepohonan di atas kami.
Beberapa hari berikutnya, pikiran kami didominasi oleh
kesepakatan yang tidak terucapkan bahwa kami tidak akan berbicara tentang apa
yang telah kami temukan. Kami sudah menguburnya dan takkan mengingatnya lagi.
Ashley berjuang untuk bersikap acuh tak acuh, tetapi
sesuatu di dalam dirinya telah berubah. Ada rasa lelah yang belum pernah ada
sebelumnya dan dia sering tersesat dalam pikirannya, tercermin dalam
kemurungannya. Aku tak bisa membayangkan apa yang dipikirkannya. Namun aku
berharap, itu bukan berarti Ashley tengah merindukannya.
Pada malam ketiga, aku terbangun tiba-tiba karena suara
kaca pecah dan jeritan mengerikan. Aku berlari ke saklar lampu, tanpa berpikir.
Dalam cahaya, aku berputar untuk melihat ke jendela, dan tempat tidur kosong
yang ada di sampingnya.
Tempat tidur adikku.
Tidak ada tanda-tanda Ashley. Satu-satunya barang yang tersisa
di antara selembar selimutnya adalah pecahan kaca pecah, dan beberapa helai
rambut anjing liar.
Orang tua kami disertai tim pencari dari kota melakukan
pencarian besar-besaran, namun tak ada yang pernah menemukan dimana Ashley
berada.
Kecuali aku.
Tiga bulan berlalu dan orang tua kami telah menerima
ketiadaan saudariku. Aku tahu dalam hatiku, ini semuanya ada hubungannya dengan
anjing itu … atau serigala … atau apalah itu. Namun aku tak berani
memberitahukannya pada siapapun. Toh, mereka takkan mempercayaiku.
Akhirnya aku memberanikan diri kembali ke sana, berharap
menemukan jawaban. Dan di tempat kami menemukan tengkorak itu, aku menemukan
sesuatu yang lain. Bukan, bukan sebuah tengkorak anjing yang buruk rupa dan
kumal, melainkan tengkorak seorang anak kecil. Putih berkilauan ditimpa cahaya
matahari.
Aku tahu seharusnya aku tak melakukannya, namun aku
harus. Aku merindukan Ashley. Akupun membawanya ke rumah kami. Aku tahu, suatu
saat ia akan kembali.
Ia pasti kembali.
Satu-satunya barang yang tersisa di antara selembar kumisnya
ReplyDeleteKumis? Err, apakah mereka manusia atau.. keluarga kucing, mungkin?
Tengkorak anjing di tengah rumput, kaya ritual inugami
Kumismu itu kak, kumismu.....
DeleteEeeeee , tapi kakak kan cewek...
udah gw edit hehehe
DeleteBerarti adiknya juga bakal meregenerasi diri juga dong... Lama2 jd manusia utuh
ReplyDeleteIni mirip pet sematary
ReplyDelete