Thursday, November 22, 2018

REDDIT #9: DOMBA KURBAN


Penulis: MissLunaKitty89

Judul Asli: “The Sacrificial Lamb” (dengan sedikit perubahan)


Sejak lahir, aku selalu menjadi bocah yang sakit-sakitan. Orang tuaku mencoba segalanya, membawaku ke dokter, merawatku selama beberapa hari di rumah sakit, namun sepertinya tak ada yang bisa memulihkan staminaku. Buruknya lagi, aku adalah anak tunggal, jadi orang tuaku mencoba segalanya agar aku bisa tetap sehat.


Mereka memiliki peternakan. Mereka adalah pekerja keras dan kadang membuatku merasa bersalah bahwa aku tak bisa menjadi anak yang sehat dan kuat seperti yang mereka harapkan, dan bisa membantu mereka di peternakan.

Aku sendiri bahkan tak kuat untuk berjalan melintasi bukit berumput yang menjadi peternakan kami. Namun orang tuaku sering membawaku ke sana, melihat hewan-hewan yang kami besarkan di sana.
Aku tak begitu menikmati keramaian di kota kecil dekat peternakan kami dan aku lebih memilih berada di dalam rumah sambil membaca dan sesekali menatap bukit dan rerumputan hijau serta kandang dan lumbung yang menghiasinya. Namun akhir-akhir ini orang tuaku tak mengizinkanku pergi ke sana. Mereka bilang, tanah serta bakteri yang beterbangan di udaranya tak baik untuk kesehatanku. Toh, aku sudah rapuh tanpa adanya bibit penyakit yang menyerangku.

Di saat yang hampir bersamaan, mereka bilang kepadaku bahwa mereka menemukan ramuan untuk menyembuhkanku.  Aku tak begitu percaya sebab toh, mereka sudah mencoba segala cara. Namun mereka mengatakan bahwa sup  domba akan membuatku semakin bertambah sehat dan kuat.
Aku merasa bersalah pada domba-domba kami. Ayahku harus menyembelih mereka agar aku bisa menikmati sup buatan ibuku itu. Namun orang tuaku mengatakan bahwa mereka adalah kurban yang diperlukan agar aku bertambah sehat. Dan mereka memang benar. Aku tumbuh menjadi anak sehat, tak seperti diriku dulu yang begitu lemah dan bahkan sulit untuk berjalan. Sup domba hangat itu benar-benar obat yang mujarab.

Puluhan tahun kemudian, aku kini sudah hampir menikah. Pada malam Natal, tunanganku dan keluarganya membuat sup domba khusus untukku. Mungkin ia terinspirasi membuatnya setelah aku menceritakan kepadanya masa kecilku. Mungkin harapannya ini akan membuatku merasa bernostalgia dan merasa seperti di rumah.

“Apakah rasanya enak?” tanyanya penuh harap ketika aku menciduk kuah sup itu dan mencicipi sedikit dagingnya.

Aku membeku.

Ini pasti salah.

Namun seumur hidupku, aku tak pernah merasakan apapun seperti ini sebelumnya.


No comments:

Post a Comment