Thursday, November 22, 2018

REDDIT #4: SIRINE, DARAH, DAN KEKELIRUAN


Penulis: BlueArtiste

Judul Asli: “Sirens, Blood, Errors”


Dimana kesalahanku hingga semua ini terjadi?

Hari itu seperti hari-hari biasanya di sekolah. Yang ada hanyalah pikiranku yang mengelana sepanjang kelas, menunggu jarum jam untuk berdetak bak putaran roda dan kelas berakhir dengan iringan bel. Aku selalu ingin keluar dari kungkungan ini, namun tidak begini caranya. Tak pernah aku berpikir ini akan terjadi, tidak dalam jutaan tahun.


Suara pekikan alarm kebakaran mengiris telinga kami, membuat kami tertegun kebingungan. Tanpa kusadari, akupun tengah berlari keluar dari auditorium bersama anak-anak lain ke koridor bercat putih. Di sanalah aku mendengar suara tembakan itu. Suara mengejutkan itu terdengar seperti teriakan kembang api dan suara “plop” ketika sumbat botol sampanye dibuka dan air berbusa mengucur dari mulutnya. Kakiku kini terpaku di atas lantai beton ketika kuluhat kepanikan anak-anak semakin menjadi-jadi. Mereka semua berlari, berusaha melarikan diri. Aku melihat Danny tersandung dan jatuh ke lantai, lalu menengok ketakutan ke arah bahunya. Aku menyaksikan Maxime dengan sembab penuh air mata; air mata yang mengacaukan make up dan maskaranya. Aku menonton Jonathan mencoba mencengkeram lengan kirinya, dimana darah menyesap keluar diantara jemarinya, menodai kaos putihnya hingga berubah menjadi semerah anggur.

Aku mendekat dan mendorong kerumuman itu, berusaha keluar ke arah sebaliknya. Namun mereka malah menerjangku dalam iring-iringan kepanikan itu. Di depanku, mataku bertatapan dengan Laura yang tersungkur ke depan. Matanya terkunci ke arahku dengan tatapan yang seakan mengisyaratkan bahwa ia tahu bahwa inilah takdirnya untuk mati. Ia jatuh ke tanah, bahkan tak sempat menangis, ketika dua peluru menemus punggungnya.

Deringan alarm kebakaran, teriakan dua koridor jauhnya. Semuanya itu seperti “klik” ketika aku mendongak dan menatap Adam, teman sekelasku, teman sekamarku, sahabatku, semua di atas segalanya – dengan senapannya tepat mengarahku. Dia berdiri mematung dengan napas tersengal. Tubh-tubuh tak bernyawa dari orang-orang yang kukenal kini membujur bergelimpangan di berbagai sudut sekolah ini dengan cipratan darah seakan meneriakkan pinta terakhir mereka.

Sedetik kemudian, da orang satpam menerkam tubuh Adam, entah darimana, dan menjatuhkannya ke tanah. Ia mencoba melepaskan tembakan, pelurunya bergema di koridor panjang, namun ia takkan memenangkan pertempuran itu. Salah seorang satpam yang bertubuh lebih besar menendang senapan itu dari tangannya dan menindihnya ke atas lantai. Satpam yang lain berteriak dengan panik ke arahku, menyuruhku untuk segera menyelamatkan diri. Namun yang bisa kulakukan hanya menatap semua adegan itu dengan tatapan kosong dan membisu.

Dimana kesalahanku hingga semua ini terjadi?

Adam seharusnya baru mulai menembak setelah mendapat sinyalku.


No comments:

Post a Comment