Thursday, November 22, 2018

REDDIT #1: DOKTER AKAN MENEMUIMU SEKARANG


Penulis: dvmdv8

Judul asli:  “The Doctor Will See You Now”


Kami tengah mengunjungi Ukraina selama seminggu ketika Cecilia tiba-tiba sakit. Dia gemetar malam tadi dengan gejala demam dan keringat menutupi dahinya serta membuat rambut hitamnya basah kuyub.

“Mama, rasanya aku sakit ...”


“Maafkan aku, Putriku sayang ...” jawabku sambil mengelus rambutnya, “Istirahatlah, besok papa dan mama akan membawamu ke dokter. Tidurlah dengan nyenyak.”

Iapun memejamkan mata dan terlelap dalam tidurnya. Aku mematikan lampu dan berjalan pelan kembali ke ruang tamu.

“Tubuhnya panas sekali, Sayang. aku khawatir.” ujarku pada suamiku. ia masih duduk di dekat perapian sambil menghisap cerutunya. ia menatap salju yang turun serta angin musim dingin yang meraung di luar jendela.

“Aku tahu, sasha. kita akan membawanya ke kota besok. aku yakin mereka akan membantunya. apa kamu sudah memberikannya paracetamol?”

“Ya, aku harap itu bisa membantunya. Kurasa kita harus membawanya malam ini ...” pintaku sambil meremas tangannya.

“Tidak malam ini, Sayang.” Ia menunjuk keluar, “Lihat saja, salju membuat jalanan tak bisa dilalui dan kita harus menunggu mobil pembersih salju membersihkan esok pagi.”

Ia lalu menarik tanganku, “Ayolah, duduk saja denganku. Aku janji kita akan pergi pagi-pagi, begitu mobil itu membersihkan jalan.”

Aku tak bisa tidur memikirkan anakku. Keesokan paginya, suamiku menepati janjinya dan mobil rental kecil kami melaju di jalan dengan tumpukan salju di kanan kirinya. Kami melaju ke arah sebuah klinik yang ada di kota. Cecilia duduk dengan lemas, masih saja batuk dan sesekali mengeluh.
Bangunan klinik itu sudah tua. Ruang tunggunya hanya memiliki 4 kursi plastik dan sebuah poster resor di Laut Hitam yang mulai mengelupas.

Suster menunjukkan kepada kami sebuah ruangan dan mengambil suhu tubuh Cecil; 39,7 derajat Celcius.

“Dokternya akan segera datang.” ucap sang perawat itu sembari meninggalkan ruangan.

Kami menanti dengan cemas selama beberapa menit ketika terdengar suara ketukan di pintu. Seorang pria botak bertubuh pendek dengan sepasang kacamata menempel di matanya memasuki ruangan dan memperkenalkan diri sebagai Dokter Zlo. Jas putihnya ternoda dengan bercak kecoklatan dan kacamatanya juga sudah goyah.

“Hmmm ... demam ya?’ tanyanya dengan bahasa Inggris yang beraksen kental. “Memang akhir-akhir ini banyak yang mengalami demam di kota ini.”

“Ya, kami memang agak khawatir.” jawabku.

“Aku akan memeriksanya sebentar, bolehkah?”

“Tentu saja, Dokter.” Suamiku berkata, “Apapun yang bisa membuatnya lebih baik. Kami ingin datang semalam, namun saljunya ...”

Ia mengisyaratkan suamiku untuk diam ketika ia menempelkan stetoskopnya dan mulai mendengarkan detak jantung putriku.

“Oh, dia akan baik-baik saja,” ia menarik sebuah jarum suntik berujung keperakan dari dalam jas putihnya, “Aku tahu apa yang ia butuhkan ...”

Ia menarik lengan piyama Cecil dan menyuntikkannya tepat di lengannya. Cairan di dalamnya berwarna hijau keputihan dan Cecil mengeluarkan lenguhan kesakitan yang pelan. Aku melihat tangannya gemetar ketika dokter itu mengusap bekas suntikan itu dengan kapas beralkohol.

“Ia akan lebih baik sekarang ...” katanya. Ia langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Aku dan suamiku bertukar tatapan penuh tanda tanya. Tiba-tiba saja terdengar ketukan lain di pintu. Seorang pria bertubuh tinggi dengan janggut lebat masuk dan menyapa kami.

“Maaf saya datang terlambat. Saya Dokter Dobre,” ia memulai, “Nah, bagaimana keluhan yang dialami Ceci kecil?”

No comments:

Post a Comment