Thursday, November 22, 2018

REDDIT #5: SEBUAH SUMPAH

Penulis: movieman94

Judul asli: “The Vow


SEPERTI anak remaja lain yang tinggal punya setahun lagi di SMA. Aku membenci kedua orang tuaku karena menyuruhku pindah dan berpisah dengan teman-temanku. Pindah ke kota tetangga sih tidak masalah, namun pindah ke negara bagian lain. F*ck them!


Tentu saja apa yang kulakukan terlalu dramatis, namun aku mengambil sumpah untuk tetap diam sebagai bentuk protesku. Jika mereka mau menyingkirkan teman-temanku, maka aku akan menyingkirkan pula anak laki-laki yang biasa mereka kenal.

Sulit beradaptasi di sekolah baruku pada awalnya. Justru bukan karena mereka mengabaikanku, namun mereka malah sangat tertarik dengan seorang anak baru yang tak pernah berbicara sepatah katapun. Namun ujung-ujungnya, perhatian itu memudar. Kurasa pada suatu titik mereka menyadari bahwa aku takkan berbicara pada mereka dan akhirnya, mereka menjadi sedikit ketakutan terhadapku. Aku haruslah seorang pria dengan mental nggak beres jika aku sama sekali tak pernah berbicara, bukan?

Awalnya aku hanya berencana untuk membisu pada semester pertama ini di sekolah. Libur musim dingin tiba dan kurasa semuanya akan menjadi normal. Akan tetapi, aku menyadari bahwa ternyata diacuhkan oleh orang lain itu sesuatu yang menyenangkan. Tak ada yang menggangguku dan akhirnya, aku memutuskan untuk tak pernah berbicara lagi selamanya.

Hari itu di bulan November, aku pulang dari sekolah dan menemukan ayahky di sana. Ini tidak biasa. Ia jarang sekali pulang dari kerja lebih awal. Ia tertidur di sofa, di depan televisi. Aku berjalan menuju ke dapur dan menemukan selusin botol bir kosong di atas meja. Apa dia ma –

“Wah wah wah .... lihat siapa yang pulang?”

Aku berbalik dan menemukan ayahku berdiri di lorong menuju dapur di belakangku. Amarah tampak menyala di matanya.

Ia mulai berjalan ke arahku.

“Coba tebak siapa yang dipecat hari ini?”

Aku menunjuk ke arahnya.

“Anak yang pintar. Dan tebak siapa penyebab semua stress yang membuatku kehilangan performa pekerjaanku?”

Aku menunjuk ke arahnya lagi sebagai bentuk sarkasme.

Ia tertawa dengan beringas, “Masih tidak mau berbicara?”

Aku menggelengkan kepala.

“Well, aku akan membantumu dengan itu.”

Tiba-tiba ia menghantam wajahku dengan keras. Aku seakan tak sadarkan diri untuk sejenak dan begitu sadar, aku sudah berada di lantai. Aku bisa merasakan hidungku berdarah. Aku mengerang.
Ayahku mengobrak-abrik laci dapur, mencoba untuk mencari sesuatu.

“Dimana gunting sialan itu?”

Darah mengalir dari hidungku, turun membasahi bibirku.

Ia berbalik dan menatapku, “Akan kupastikan kau takkan pernah bisa berbicara seumur hidupmu!”
Ia menerkan ke arahku dan menarikku dengan kasar dari atas lantai, “Bangun, dasar idiot! Bantu aku menemukan guntingnya!”

Aku menunjuk ke langit-langit di atasku.

“Apa? Guntingnya ada di atas, di kamarmu?”

Aku mengangguk.

“Buat apa? Memotong j***utmu?”

Aku menggeleng sembari menyeringai ke arahnya.

Matanya mulai melebar. Ia mulai menyadari sesuatu.

“Ka ... kau tak segila itu, kan?”

Aku membuka mulutku perlahan dan menunjukkan penggalan daging yang tersisa dari lidahku.

“Aaaaaaah ...” hanya itu yang bisa kuucapkan

No comments:

Post a Comment