Thursday, November 22, 2018

REDDIT #8: CATCALLING ITU MENJIJIKKAN


Penulis: sleepyhollow_101

Judul Asli: “Catcalling is Gross”


Aku sedang berkendara mengelilingi kota bersama teman-temanku. Aku tak begitu mengenal mereka, namun kami teman sekolah. Mereka cukup liar, namun aku sudah putus asa ingin menemukan teman. Aku tahu ini satu-satunya kesempatanku.

Jadi, di sinilah aku, duduk di kursi belakang mobilnya Danny, menyaksikan mereka berteriak kepada gadis-gadis yang mereka lihat dari jendela.


“Hei Sayang, ******mu sexy lhooo ...” teriak Tom. Gadis itu langsung mematung di trotoar sembari menundukkan kepala dan tidak merespon. Mungkin dia menangis.

“Dasar cengeng!” teriaknya lagi. Kami tertawa. Ya, termasuk aku. Walaupun menurutku itu tidak lucu, namun aku ingin membaur dengan mereka.

“Ceweeek ... ngamar yuuuk!” teriak Mike ketika ia melihat cewek lain sedang berjalan sendirian. Ia menatap kami dengan wajah jijik. Namun itu malah membuat tawa kami semakin kencang.

“Oke, Ian ... sekarang giliranmu!” kata Danny, sembari menatapku dari arah spion.

Aku membeku. Aku tak pernah melakukan catcalling pada perempuan sebelumnya.

“Ayo, tunggu apa lagi? Lo bukan pengecut kan?” tanya Mike.

“Ayolah, Bro. jangan jadi cupu laaah.” cibir Tom.

Ya, aku memang selalu cupu seumur hidupku. Namun tidak kali ini.

Aku melihat seorang gadis. Ia amat cantik, dengan rambut coklat panjang, bintik-bintik pada wajahnya, serta gaun musim panas berwarna kuning cerah. Ia menatap kosong ke depan, menunggu lampu untuk menyeberang.

Kamipun lewat di depannya. Aku tak tahu apa yang harus kuteriakkan, jadi aku mencoba, “Cewek, lihat dalemanmu dong!”

Seisi mobil senyap sebentar, sebelum tawa kami akhirnya meletus.

“Ew ... lo parah banget, Bro!” Tom terpingkal-pingkal.

“Najis lo, tapi keren!” Danny menatapku dengan wajah setuju dari kaca spion.

Aku menyeringai. Sepertinya aku berhasil memberikan kesan pada mereka. Aku menoleh sebentar ke belakang dan melihat gadis itu masih di trotoar. Ia tak berbuat apa-apa. Ia tak balik berteriak memaki kami ataupun mengacungkan jari tengahnya. Ia hanya menatap kami dengan matanya yang tajam. Bulu kudukku serasa berdiri. Ia terus menatapku hingga akhirnya mobil kami berbelok dan aku tak mampu melihatnya lagi.

Kemudian aku melupakan tentangnya.

Danny menggunakan KTP palsunya untuk membeli bir dan kamipun kembali ke apartemen untuk bersantai. Akhirnya, bocah-bocah itu tertidur karena mabuk dan akupun naik ke atas tempat tidur, merasakan deru alkohol siap membiusku pula.

Aku langsung tertidur nyenyak begitu kepalaku menyentuh bantal.

Tengah malam aku terbangun. Aku tak tahu apa yang membangunkanku. Saat itu masih gelap dan bulan masih dengan malu bersumbunyi di balik awan yang gelap. Aku tak bisa melihat apapun di sekitarku, namun aku bisa mendengar sesuatu.

“Slik ... slik ... slik ...”

Suara itu terdengar basah, seperti sesuatu yang digesekkan. Aku meraih lampu di sampingku dan mencoba menyalakannya.

“Slik ... slik ... slik ...”

Aku tertegun. Gadis yang berada di trotoar tadi kini berdiri di kamarku, menatapku. Namun perutnya ... perutnya tersayat membuka dan aku bisa melihat seluruh isi perutnya.

“Slik ... slik ... slik ...”

“Kenapa?” tanyanya sambil menggesek-gesekkan ususnya sendiri yang dipegangnya, “Bukannya ini yang ingin kamu lihat?”


2 comments: