Thursday, November 22, 2018

REDDIT #6: PEMBERSIH JENDELA


Penulis: ShiftySaul

Judul Asli: “The Window Cleaner


KETIKA aku tinggal di kota bersama ibuku, aku selalu terganggu dengan suara dari tukang pembersih jendela. Aku tahu itu terdengar bodoh, mereka hanya melakukan pekerjaan mereka dan mereka dibayar untuk itu. Namun aku selalu merasa tak nyaman ketika suara kerikan dari pembersih berbahan metal menggores permukaan kaca terdengar di jendela kamar tidurku. Beberapa detik kemudian, suara itu diikuti dengan munculnya wajah seorang asing.


Aku seringkali meninggalkan kamar tidurku ketika mereka tengah membersihkannya. Kejadian itu hanya berlangsung sebentar dan mereka hanya datang seminggu sekali ketika ibuku sedang berada di kantor. Seringnya aku malah tak melihat mereka sebab akupun berada di luar rumah. Ya, yang menyebalkan, aku harus pergi ke sekolah.

Namun ketika liburanlah, ketika aku lebih sering berada di rumah, saat itulah hal itu lebih menggangguku. Bahkan selama beberapa kali, aku tak menyadari mereka tengah membersihkan jendela dan aku akan masuk ke kamarku (yang pintunya terletak berseberangan dengan jendela) dan wajahku bertatapan langsung dengan wajah mereka. Aku bisa mengatasi rasa takutku. Aku mengatakan kepada diriku sendiri bahwa ketakutanku hanyalah hal yang konyol.

Mungkin merasa merasa menjadi seorang badut, bukan karena mereka membuat gembira atau terhibur, namun mereka hanya melakukan tugas mereka dan hasilnya, mereka malahan tanpa sengaja menakuti orang. Aku mulai merasa tidak enak pada mereka. Mungkin mereka menyebut rumahku sebagai rumah itu dengan anak yang takut pada mereka.

Hingga hari itu terjadi.

Saat itu adalah musim panas yang menyengat dan jendelanya kubiarkan sedikit terbuka. Seperti bocah lain seumuranku di musim panas, aku sedang duduk bermain Counter Strike dengan headphone menempel di telingaku dan jelas, suara apapun di sekitarku akan teredam oleh game-ku. Namun sudut mataku melihat bahwa jendelaku perlahan mulai membuka. Sangat pelan dan halus, seolah ada yang ingin membukanya tanpa menimbulkan suara sedikit apapun.

Saat itu juga aku mengangkat telepon genggamku, berpura-pura memanggil ibuku. Jendela itu berhenti membuka. Setelah kubuka headphone-ku, aku bisa mendengar suara deritan logam menggores permukaan kaca dan suara yang familiar lain, yakni tangga besi yang dilipat.

Ketika ibuku pulang, aku masih gemetaran dengan usaha pembobolan rumah tadi. Namun ketika aku melaporkannya tentang insiden tadi, wajah ibuku memucat seputih kertas, sama pucatnya dengan ekspresi ketakutanku tadi.

“Apa kau ingat seperti apa wajah mereka?” tanyanya, “Jika bisa, kau harus mendeskripsikan penampilan mereka pada polisi.”

Aku bingung akan apa yang ia katakan. Kenapa bukan ibu saja? Kan ibu kenal dengan mereka.
Dan saat itulah ia mengatakan padaku bahwa ia tak pernah memperkerjakan tukang pembersih jendela.


No comments:

Post a Comment