Monday, August 28, 2017

REDDIT DARK TALES #12: DI ATAS KAMI MATAHARI MENGGANTUNG RENDAH DI UDARA, MENGETSAKAN CAHAYA REMANG YANG MEMBUAT SEGALANYA TAMPAK SEPERTI BELUDUR KASAR. DI KEDUA SISI KAMI, TIADA ADA YANG LAIN SELAIN LUASNYA GURUN; PASIR DAN KAKTUS SERTA POHON YUCCA. TERPENCIL


ABOVE US THE SUN HANGS LOW IN THE AIR, CASTING A DUSKY LIGHT THAT MAKES EVERYTHING LOOK A LITTLE MORE RAGGED. ON BOTH SIDES, NOTHING BUT THE OPEN DESERT; SAND AND CACTI AND JOSHUA TREES. BACKWOODS”

Penulis: Jay_Money_


Marfa, Texas, adalah salah satu tempat paling terisolasi di Amerika Serikat. Dekat dengan perbatasan Meksiko, jauhnya tiga jam perjalanan dari El Paso, dan ribuan mil dari peradaban yang ada. Jalanan di tempat terpencil ini hanya ditemani pasir serta beberapa pom bensin dan gubug yang terbengkalai.

Di benakku, aku masih merasa gugup jika harus berhenti untuk beristirahat di tempat seperti Marfa. Jika aku mengalami kecelakaan, jika mobilku hilang dicuri, jika ada apapun yang buruk terjadi padaku ditempat seterpencil ini, terutama jika malam, aku takkan bisa berbuat apa-apa.

Namun, aku sangat kelaparan setelah berkendara seharian, dan restoran di Marfa sepertinya menjadi godaan yang tak mampu aku tolak, apalagi di saat malam seperti ini. Tempat ini aku akui indah. Tak ada polusi cahaya dari rumah-rumah ataupun gedung, sehingga langit disinari hanya oleh taburan bintang-bintang.

Akupun berhenti di sebuah tempat makan lokal dan aku baru saja mau masuk ketika seorang remaja perempuan berlari ke arahku. Aku melihatnya dan berusaha menghindarinya, namun ia sepertinya sengaja menabrakku dan “BAM!, ia menjatuhkanku.

“Apa yang kau ...” ujarku tajam. Aku mengira antara dia bodoh atau memang kasar hingga melakukan lelucon seperti ini.

Dia menatapku dan sorot matanya ... hingga hari ini aku masih tak mampu menggambarkannya. Bayangkan wajah seseorang sesaat sebelum ia ditabrak oleh mobil. Hanya murni panik dan teror. Mungkin kejadian tadi lebih menakutkan baginya ketimbang bagiku.

“Maaf Pak ...” ia segera kabur.

Aku segera melupakan kejadian itu karena tujuanku ke sini untuk makan dan perutku sudah kelaparan. Aku memesan steak dan rasanya cukup lezat. Bukan karena aku terlalu lapars etelah menempuh perjalanan jauh, tapi masakan ini benar-benar enak. Entah karena dagingnya sendiri atau bumbu-bumbunya. Bahkan, tak ada kata yang tepat untuk menggambarkan kelezatan rasanya. Benar-benar sempurna!

Aku tak peduli apakah mereka rednecks atau bukan. Mereka benar-benar tahu caranya memasak steak dan hanya itulah yang penting bagiku saat ini.

Saat aku merogoh sakuku untuk mengambil dompetku, aku merasakan sesuatu di sakuku. Tunggu, secarik kertas? Aku menariknya dan menemukan gumpalan kertas. Kapan benda ini ada di sakuku? Tunggu ... gadis itu? Tabrakan itu? Apa dia sengaja menabrakku untuk memasukkannya ke dalam sakuku?

Aku membukanya dan membaca catatan yang tampak ditulis dengan terburu-buru itu.

“TOLONG BAWA AKU PERGI BERSAMAMU. ITU BUKAN DAGING BINATANG”

8 comments: