Friday, May 11, 2018

REDDIT # 12: JANGAN MELAMBAIKAN TANGAN PADA ORANG ASING




“Don't Wave At Strangers”

Penulis: QueenSkittlez


Dia sedang duduk di kafe toko buku ketika aku pertama kali melihatnya, Tapi dia tersenyum menarik mataku. Dia menatapku seolah dia mengenalku. Perlahan-lahan, dia mengangkat tangannya dan melambai ke arahku. Dengan ragu-ragu aku membalas lambaiannya. Kemudian aku menunduk, kembali membaca bukunya dan melupakannya. Mungkin aku takkan melihatnya lagi.

Namun ternyata aku salah.


Saat aku membeli sandwich pagi ini, aku melihat orang asing itu lagi. Dia ada di seberang jalan, tersenyum, bahkan lebih lebar dari sebelumnya. Dia mengangkat tangan dan melambai. Aku hanya menatapnya. Akhirnya, sebuah bus melaju di depannya dan begitu lewat, dia tidak terlihat di mana pun.

Kemudian aku sadar, dia ada di mana-mana.

Dimanapun aku berada, dia akan berada di sana. Entah di seberang jalan, di seberang lorong, ataupun di seberang jendela. Namun aku masih bisa melihat wajahnya. Ia masih tersenyum kepadaku.

Aku sampai memasang kamera CCTV di rumahku. Namun itu tak menghentikannya. Ketika aku mengecek kamera itu, aku melihatnya di depan pintu rumah. Dia melihat lurus ke arahnya, tepat ke arah kamera, tersenyum. Aku bisa melihat wajahnya begitu dekat sekarang, Senyum lebar dan lebar. Dia terus menyeringai dan mulai melambaikan tangan dengan antusias. Aku merayap ke jendela, tetapi dia tidak lagi di depan pintuku.

Aku sudah tak tahan lagi ketika aku melihat pria itu tersenyum, kali ini di dalam rumahku. Aku memanggil polisi, namun mereka tak menemukan apapun. Bahkan tak ada jejaknya di rekaman CCTV. Mereka mengira aku berhalusinasi dan menyarankanku pergi ke psikiater.

Akhirnya aku pergi menemuinya. Tak ada pilihan lain. Ya, mungkin itu hanya halusinasiku. Mereka memberiku obat dan sesaat, itu berhasil.

Hingga suatu hari, ketika aku pulang ke rumah, aku menemukan sebuah hadiah di atas mejaku. Aku yakin sekali telah mengunci seluruh rumah sebelum aku berangkat. Jadi aku menyimpulkan, itu pasti dia.

Aku membuka kotak itu dan menemukan sebuah kalung perak yang indah dengan liontin bertuliskan,
"Untuk sahabatku"

Dia nyata. Dia benar-benar ada.

Psikiater baruku mengira aku penderita skizofrenia. Lalu dia memuji kalung baruku. Dan ketika aku mengatakan bahwa itu adalah hadiah dari seorang teman baik, wanita yang tersenyum di belakangnya, entah bagaimana, tersenyum lebih lebar.






2 comments: