Monday, August 8, 2016

HINGGA FAJAR MENJELANG: CHAPTER 1

 

337659920

NOVELISASI DARI GAME UNTIL DAWN

DITULIS OLEH: DAVE CAHYO

 

SAMANTHA WEST memandang hamparan salju yang berada di bawahnya. Mereka tampak putih, empuk seperti gumpalan kapas. Namun penampilan mereka menipu. Mereka sama kerasnya dengan tanah dan melompat ke sana dengan ketinggian ini akan membuat tubuhmu langsung remuk.

Berapa ketinggian cable car ini? 100 meter? 200 meter?

Pernahkah kalian memiliki dorongan untuk melompat, ketika kalian berada jauh di ketinggian dan menatap ke bawah? Seakan-akan ada suara yang berbisik di relung terdalam jiwammu, “Terbanglah, biarkan gravitasi memelukmu.”

Pada akhirnya kita semua kembali ke bumi.”

Sam buru-buru menghapus pikiran itu dari benaknya. Kesalahan besar menatap ke bawah dalam kondisi seperti ini. Seharusnya ia pandangi saja pemuda tampan yang ada di sampingnya.

Ia menoleh ke arah Michael Sommers yang duduk di sebelahnya. Dawn benar, pikir Sam. Mike adalah pemuda yang keren. Tak heran Dawn naksir padanya semenjak musim panas lalu. Dan ini sudah musim dingin, sudah berapa bulan ya berarti?

Semua perempuan memang layaknya jatuh cinta pada pandangan pertama pada pemuda seperti Mike. Ia seorang gelandang futbol, bertubuh tinggi tegap dengan mata biru dan rambut pirang berombak yang menawan. Sam juga memiliki rambut berwarna emas, sama indahnya jika dibiarkan tergerai. Namun sayangnya di cuaca sedingin ini, ia harus membungkus erat kemilau rambutnya di balik tutup kepala wool yang tebal itu.

Pemuda itu hanya diam menatap barisan pepohonan pinus yang timbul dan tenggelam di antara pegunungan bersalju ketika cable car mereka bergerak melintasi jurang. Ia hampir tak berbicara dengannya. Mungkin ia merasa canggung, sebab ini kali pertama mereka bertemu.

Terdengar bunyi gemeretak gigi dari sampingnya. Sam menoleh dan melihat Jung Soo tengah gemetaran sambil menatap ke bawah.

“Kau tak begitu suka dengan ketinggian ya?” tanyanya pada pemuda berwajah Asia itu.

Jung Soo menoleh dengan matanya yang coklat dan dalam.

“Bu ... bukan,” ujarnya masih menggigil, “Hanya saja ... dingin di sini.”

Terdengar suara Mike terkekeh, “Jangan khawatir, Jung Soo. Kita akan segera sampai dan di sana kau bisa menghangatkan diri.”

Wajah Jung Soo berubah cemberut bercampur malu. Kesal karena ia merasa Mike mengejeknya dan memerah malu karena ia menunjukkan kelemahannya di depan Sam.

“Tak apa, kok.” hibur gadis itu, “Jangan lihat ke bawah, Itu akan membuatmu semakin tidak nyaman.”

Pemuda itu tersenyum sambil mengangguk. Sepertinya ia pemalu, pikir Sam. Namun kata Josh, ia adalah pemain futbol yang bagus, walaupun ia baru saja belajar permainan itu semenjak datang dari Korea.

“Sam, kenapa mereka memanggil gadis secantikmu dengan nama laki-laki?”

Sam menoleh ke arah Mike.

“Kurasa itu resikonya memiliki nama Samantha. Memang dengan nama apalagi orang-orang akan memanggilku? Sammy?”

“Sammy? Yah, kurasa aku akan memanggilmu Sammy, semacam panggilan kesayangan.”katanya sambil terkekeh.

Apa barusan Mike berusaha merayuku, pikir Sam. Ia pernah mendengar Josh memperingatkan Dawn agar berhati-hati terhadap pria seperti Mike. Bahkan mereka pernah bertengkar karenanya. Pertama mendengarnya, Sam merasa Josh hanya overprotektif terhadap adiknya itu. Bahkan Josh selalu lebih perhatian kepada Dawn ketimbang Hope, padahal mereka sama-sama adik kembarnya.

Namun Sam kini mulai merasa semua yang didengarnya tentang Mike adalah benar. Mike seorang playboy, Sam rasa itu rahasia yang diketahui semua gadis, Tetapi tetap saja banyak wanita yang mengejarnya.

“Bukankah kau pacarnya Elle?” tanya Sam, “Kenapa kau tak naik satu cable car dengannya?”

Mike menghela napas, “Cable car hanya muat untuk tiga orang dan Elle lebih suka duduk bersama Ashley dan Jessica. Biasalah cewek-cewek, mereka selalu suka bergosip.”

Sam tertawa, “Aku tidak.”

“Yah, aku tahu.” Mike menatapnya dalam-dalam dengan mata birunya.”Aku tahu kau berbeda.”

Apa Mike berusaha membuatku jatuh hati kepadanya, pikir Sam.

“Dawn dan Hope juga tidak suka bergosip.”

“Ah iya, adik kembar Josh itu. Mungkin saja mereka bergosip lewat telepati.”

Sam tertawa lagi, “Kau ada-ada saja.”

“Apa kita sudah sampai?” tanya Jung Soo tiba-tiba. “Aku melihat Josh dan Matt di sana.”

Di ujung jurang, Joshua tampak melambaikan tangan, kemudian masuk ke ruang kendali cable car.

“Hebat kan? Dia mengendalikan cable car ini sendirian.” ujar Mike.

“Apa tidak ada pelayannya atau siapapun yang membantunya di sini?” tanya Sam heran.

“Hanya ada kita di sini.” jawab Mike, “Josh adalah orang yang mandiri.”

“Aku bingung,” ujar Jung Soo, “Kalau dia yang mengendalikan cable car ini, bagaimana ia bisa kembali ke kota?”

Mike terkekeh, “Mungkin saja ada helikopter yang menjemputnya. Kalian tahu kan seberapa kayanya keluarga Washington.”

***

Tak ada yang lebih lega untuk turun dari cable car itu ketimbang Jung Soo. Warna pucat di wajahnya mulai mencair ketika kakinya menginjak tanah yang diselimuti salju.

“Huh Josh ... kenapa resort-mu harus jauh sekali dari kota? Melewati jurang mengerikan itu lagi.” keluh Sam yang mulai pegal duduk di cable car.

“Sisi gunung ini adalah lokasi ski terbaik. Butuh pengorbanan sedikit untuk mencapainya, namun kau takkan menyesal.” ujar Joshua, “Ayolah kita segera ke sana. Dawn serta cewek-cewek yang lain sudah ada di pondok.”

“Hei Mike, kau bawa minumannya kan?”tanya Matt, pemuda berkaca mata yang berdiri di samping Josh.

“Tentu saja!” Mike segera mengangkat keranjang piknik hitam yang ada di sampingnya.

“Hei, kalian membawa bir ke sini?” tanya Sam tak percaya, “Kita masih 17 tahun. Usia kita masih ilegal untuk minum alkohol!”

Who cares!” kata Josh sambil tertawa, “Ayo kita segera ke pondok!”

Mereka berlima segera berjalan menuju ke resort dimana mereka akan menginap sepanjang akhir pekan ini. Sam menoleh sebentar ke puncak bukit.

Di sana berdiri seorang pria dengan memanggul senapan.

***

“Mungkin ia seorang pemburu.” kata Hope, gadis berambut hitam panjang itu, ketika mendengar cerita Sam tentang apa yang dilihatnya di atas bukit tadi.

“Wajahnya menakutkan. Apa dia juga tinggal di sini?” entah kenapa Sam tak bisa melupakan wajah pria seram itu dari benaknya.

“Itu pasti Victor Milgram.” Josh ikut nimbrung ke pembicaraan gadis-gadis itu, “Ia seorang pemburu yang tinggal di sekitar gunung ini. Dia sudah tinggal di sini bahkan sebelum resort ini dibangun. Kata ayah sebaiknya jangan berurusan dengan orang semacam dia.”

“Tinggal di sini?” Jung Soo keheranan, “Bukannya di sini diselimuti salju sepanjang tahun? Lalu dia makan apa?”

“Makanya dia berburu, tolol!”ujar Josh. “Tak semua orang makan makanan cepat saji seperti KFC kayak kamu.”

Semua tertawa. Wajah Jung Soo memerah malu.

Sam mendongak ke atas dan melihat Mike dan Elle tengah bermesraan di dekat meja bilyar. Mike sama sekali tak merasa bersalah pada pacarnya, padahal tadi dengan gencar pemuda itu menggodanya di atas cable car.

Elle memang cantik, pikir Sam, tak heran ia bisa jadian dengan Mike. Elle memiliki rambut merah bergelombang yang membuat semua wanita iri. Belum lagi kulit putihnya serta mata hijau seperti emerald yang seakan menarik semua laki-laki ke dalam sihirnya.

Tiba-tiba pandangan mata Mike beralih dari kekasih cantik di sampingnya ke arah Sam. Gadis itu buru-buru membuang mata dan pandangannya tumpah ke arah Dawn, yang tengah duduk di depan perapian sembari menatap satu wajah di ruangan itu. Mike.

Ingin rasanya Sam berdiri dan memperingatkan Dawn tentang lelaki seperti apakah Mike itu. Namun Sam mengurungkannya. Ia tahu benar watak sahabatnya itu. Dawn adalah gadis keras kepala dan berkemauan keras. Ia harus mendapatkan apapun yang diinginkan, sama seperti karakter anggota keluarga Washington yang lain.

Sam tak habis mengerti, jika saja Dawn bukan saudara kembar Hope, pastilah ia mengira Dawn adalah anak angkat keluarga ini. Ia memiliki sifat yang bertolak belakang dengan Hope. Hope sangat menarik, energik, dan semua orang menyukainya. Namun Dawn tertutup dan menjadi remaja yang paling kurang populer, bila dibandingkan dengan Hope maupun Josh, kakaknya.

Apakah Sam harus membuat list tentang kekurangan Dawn selama ini? Dawn gagal bergabung dengan tim cheerleaders dan ia juga tak bisa membuat laki-laki manapun menoleh padanya sepanjang semester ini. Entah mengapa, Dawn seperti menyembunyikan pancaran auranya; aura yang seharusnya menurun di keluarga ningrat seperti Washington. Bahkan Sam merasa, selama ini ia bertahan menjadi sahabat Dawn karena kasihan dengannya.

Sam merasa tak enak berpikiran buruk pada sahabatnya. Ia segera mengalihkan perhatiannya pada Ashley dan Jessica yang tengah bercengkerama di dekat Dawn, namun sama sekali tak mengindahkan gadis yang sedang sendirian itu. Bahkan mungkin mereka tak sadar Dawn ada di sana.

Sam hendak bangkit untuk menemani Dawn, namun terhenti ketika melihat seseorang sudah berusaha mendekatinya.

Matt.

Pemuda berkaca mata itu tampak berusaha berbincang dengan Dawn, namun gadis itu malah bangkit dari sofanya dan berjalan keluar. Matt hanya duduk dan menatap kepergiannya sambil menenggak sekaleng bir.

***

“Apa kau akan ikut bermain ski besok pagi?” tanya Sam ketikamenemukan Dawn tengah terduduk di kursi kayu di beranda.

“Entahlah, Sam. Kurasa aku akan tetap berada di sini saja.”kepang gadis itu bergerak-gerak ketika ia menggeleng.

“Kita sudah jauh-jauh ke sini tapi kau malah di kamar saja,” keluh Sam. “Ayolah, itu tidak asyik.”

Dawn mendongak dan Sam baru menyadari bahwa mata gadis itu berkaca-kaca. Sam tahu wnaita manapun akan merasa sedih jika melihat pemuda yang disukainya tengah asyik bermesraan dengan gadis lain. Namun Dawn tahu Mike sudah berpacaran dengan Elle jauh sebelum ini.

Tunggu, Sam mulai merasa melihat suatu pola di sini. Apa sebelumnya Mike juga memberi harapan pada Dawn? Apa ini sebabnya Dawn mau ikut berlibur di sini, sebab ia tahu Mike akan berada di sini juga?

Hope tiba-tiba muncul dari balik pintu dan menekankan kedua tangannya ke bahu Dawn dengan lembut.

“Hei, ada apa?” tanya Hope pada saudari kembarnya. Sam memutuskan masuk kembali. Biar dua saudara itu menyelesaikan masalah mereka sendiri. Toh Dawn lebih dekat dengan Hope ketimbang dirinya.

Cinta memang sumber masalah di dunia ini, pikir Sam. Ia merasa beruntung sejak dulu tak mau ambil pusing memikirkan cowok. Ia sudah menargetkan dirinya masuk universitas ternama tahun depan dan hanya itu yang ada di pikirannya.

Sam agak terkejut ketika masuk dan menemukan hampir semua orang sudah kembali ke kamar mereka. Hanya tinggal Josh dan sahabatnya Matt yang tengah asyik menenggak minuman keras.Sementara itu layar LCD besar di ruang tamu masih menyala menyiarkan siaran televisi, namun tak ada yang menontonnya.

“Hei, dimana yang lainnya?” tanya Sam bingung.

“Tidur kurasa.” jawab Josh. Bau alkohol langsung tercium begitu ia membuka mulutnya.

“Kalian mau minum semalaman di sini?” tanya Sam sambil naik ke kamarnya di lantai dua. Hal terakhir yang ia inginkan adalah terjebak di antara dua pemuda mabuk.

“Hei, kau tidak ikut minum, Sam?” tanya Matt dari lantai satu ketika Sam menaiki tangga.

“Tidak, terima kasih.” Sam sama sekali tak mempedulikan mereka. Lebih baik tidur saja, pikir Sam. Ia harus menyimpan tenaga untuk ski yang menyenangkan besok pagi.

Tiba-tiba ia mendengar percakapan di kamar Mike yang terbuka sedikit. Ia mengintip ke dalam dan melihat para gadis tengah mengelilinginya. Tampak pula Jung Soo, teman sekamar Mike.

“Sudah kubilang berapa kali, dia tuh naksir sama kamu.” ujar Ashley.

“Iya, kurasa itu alasannya ikut ke sini. Ia bahkan tak bisa bermain ski dengan baik.” tambah Jessica.

“Hahaha ... dia naksir aku?” tanya Mike, “Jangan bodoh. Kan dia tahu aku sudah jadian lama dengan Elle, si ratu homecoming sekolah kita.” katanya sambil mengelus rambut merah Elle yang bergelombang.

“Apa kau tak cemburu, Elle?” tanya Ashley.

“Cemburu? Jangan bodoh!” Elle menjawab dengan enteng, “Dia tuh cuma produk gagal keluarga Washington. Kalau saja dia bukan adik Josh dan Hope, mana ada yang mau mengajaknya berteman?”

Hati Sam berdebar. Ia tak pernah menduga sesama rekan cheerleadernya itu bisa berkata sekejam itu.

“Tapi aku lihat lho beberapa kali ia mencoba bermain mata dengan kekasihmu.” Jessica memanas-manasi.

“Sepertinya ia perlu diberi pelajaran,” Elle tampak berpikir sejenak, “Jangan sampai karena ia anggota keluarga Washington lalu ia merasa bisa berbuat seenaknya.”

“Hei, jangan macam-macam dengannya,” Jung Soo memperingatkan, “Nanti Josh marah besar dengan kalian.”

“Ah, kau seperti tidak kenal Josh saja,” kata Mike, “Sebentar lagi dia pasti tepar gara-gara mabuk di bawah bersama Matt.”

“Aku berpikir,” ujar Elle dengan sorot mata jahat, “Jika dia memang menginginkan Mike, bagaimana jika kita memberikan saja yang ia inginkan kepadanya?”

“Oh, jadi kita benar akan mengerjainya?” tanya Ashley.

“Hei, kau ikut juga kan Jung Soo?” tanya Mike.

Pemuda Korea itu tampak kebingungan. Namun kejadian berikutnya sangat mudah ditebak. Agar ia diterima di kelompok barunya itu, dengan enggan ia menyatakan setuju.

“Apa yang hendak kalian lakukan dengan Dawn?” Sam memberanikan diri untuk menyerbu masuk untuk menghentikan rencana mereka.

“Sam?” Elle tampak terkejut, “Kau mendengar percakapan kami?”

“Hentikan permainan kalian! Kalian hanya akan menyakiti Dawn!”

Namun Ashley dan Jessica tiba-tiba mendorong Sam ke dalam kamarnya.

“Hei, hei ... apa yang kalian lakukan?”

“Maafkan aku, Sam. Kami tak bisa membiarkanmu mengacaukan rencana kami,” Elle mengikuti mereka dari belakang, “Sejak dulu kau memang terlalu baik.”

Ashely dan Jessica sepertinya sepakat untuk mengunci Sam di dalam kamarnya.

“Hei, hentikan ini semua! Keluarkan aku dari sini!”Sam menggedor-gedor pintu dan mencoba memutar-mutar pegangan pintu, namun percuma. Mereka menahan bagian luar pintu itu dengan kursi.

Kini ia terkunci di sana, tanpa mampu berbuat apa-apa.

Dalam lubuk hatinya, Sam tahu malam ini akan berakhir buruk.

 

BERSAMBUNG

1 comment:

  1. Weh bagian satu ceritanya asik lgnsg tancap yg kedua.. Goooo ,,, xD kaget pas baca ada cowo korea hahaha

    ReplyDelete