Sunday, February 7, 2016

CITY OF FEAR: UNE (1)

 

PROLOGUE OF FEARS: THE INDIGO VIRUS

CITY OF FEAR

Apa yang kudengar, apa yang kurasakan, apa yang kulihat, apa semua ini hanya halusinasiku saja?

Entahlah, namun aku selalu mendengar bisikan hingga raungan. Bukan, bukan di telingaku ... melainkan di dalam benakku, seolah-olah suara itu merayap dari kegelapan pikiranku.

Suara itu, para dokter menyebutnya sebagai “perditus spiritum” atau “lost souls”, jiwa yang hilang. Dunia kedokteran kini tak menyanggah lagi keberadaan jiwa, bahkan hantu, sebab kini mereka telah dibuktikan keberadaannya.

Maafkan aku, seharusnya aku menceritakan terlebih dahulu siapa aku. Namaku Wesley. Aku hanyalah pemuda biasa yang menikmati kehidupan biasa. Aku dan keluargaku, kami hidup bahagia di Marseille, sebuah kota pelabuhan di selatan Prancis. Namun ketika wabah itu terjadi, tak ada yang bisa melarikan diri. Keluargaku, teman-teman, tetanggaku, semua yang kukenal, bahkan aku, kami semua mulai terinfeksi.

Kami mulai merasakan kehadiran dan melihat keberadaan “mereka” di sudut mata. Kadang mereka terpantul di permukaan melengkung sendok perak, ataupun tercermin begitu saja kala aku menatap kaca jendela. Lalu mereka mulai menampakkan diri di depan kami secara frontal.

Televisi bilang wabah ini bermula di Universitas Gronigen, perbatasan antara Belanda dan Jerman. Namun ada yang menyebut para ilmuwan di Universitas Uppsala, Swedia yang menemukannya duluan. Namun aku tak peduli. Dari manapun konon wabah itu berasal ((bahkan cerita mengatakan eksperimen ini dilakukan di Large Hadron Collider di Geneva, Swiss; sebuah cerita yang dilebih-lebihkan karena virus jelas tak ada hubungannya dengan penumbuk partikel raksasa), ceritanya selalu sama.

Wabah apa yang kumaksudkan? Pasti kalian bertanya demikian. Wajar saja, tanah air kalian mungkin masih aman. Pemerintah di berbagai belahan dunia telah menutupi berita tentang wabah ini untuk menghindari kepanikan massal.

Namun percayalah, hanya tinggal menunggu waktu saja sebelum kalian merasakan apa yang kurasakan saat ini. Sebentar lagi, ia akan berada di muka beranda rumah kalian.

Aku ingat saat semua stasiun televisi di Uni Eropa menayangkan berita menghebohkan itu. Setelah pemetaan genetik DNA manusia 100% berhasil dilakukan di Cambridge, beberapa universitas terkemuka melakukan penelitian lebih lanjut mengenai hasil tersebut.

Lepaskan aku, tolong di sini panas sekali ....

Sampaikan ini pada ibuku, aku tak sempat mengatakannya sebelum aku mati ...

Dia membunuhku, balaskan dendamku ...

Ah, suara-suara itu lagi ... Suara-suara itu, kadang aku tak bisa menghilangkannya dari pikiranku. Mereka terus mencoba berkomunikasi ...

Maafkan aku, akan kucoba meneruskan ceritaku.

Aku ingat sekali, aku sedang menatap birunya lautan Mediterania di luar jendela ketika berita itu muncul di layar kaca.

“Para ilmuwan kini menemukan sebuah fakta mengejutkan. Dari 25 ribu untaian gen manusia, ilmuwan telah menemukan lokasi gen yang bertanggung jawab atas fenomena indigo. Gen tersebut berpartisipasi penuh dalam menghasilkan hormon-hormon serta enzim yang secara keseluruhan akan menimbulkan apa yang kita sebut sebagai ‘pengalaman seram’ dalam diri kita. Gen ini, disebut STAHMIN diperkirakan menyebabkan halusinasi yang bertanggung jawab atas perasaan takut kita akan hantu dan segala macam hal berbau mistis.” kata sang pembaca berita dalam bahasa Prancis yang fasih.

Hanya saja, itu bukan halusinasi. Namun pada saat itu, tak seorangpun menyadarinya.

“Ilmuwan telah berhasil mengisolasi gen ini dan dengan menyatukannya dengan untaian gen virus, diharapkan mampu memberikan petunjuk cara mengobati berbagai penyakit halusinasi seperti skizofrenia, bahkan menjelaskan fenomena ‘demonic possession’ atau kerasukan ...”

Skizofrenia ... saat itu media masih dihebohkan dengan kasus pembunuhan seorang ibu di Hamburg, Jerman, oleh anaknya sendiri yang mengaku kerasukan “iblis”. Dan virus (aku pernah belajar bioteknologi saat kuliah), seperti yang mereka sebutkan, berguna untuk mentransplantasikan gen tersebut ke dalam tubuh manusia lainnya sebagai kelinci percobaan, untuk melihat seperti apa efeknya.

Patient zero, seorang relawan narapidana yang bersedia menerima virus itu sebagai syarat abolisi hukuman matinya, tiba-tiba mengalami apa yang mereka sebut sebagai halusinasi parah. Ia mengatakan bisa melihat “mereka”. “Mereka” ada dimana-mana, membisikinya hal-hal yang amat mengerikan, dan menyuruhnya melakukan hal-hal yang lebih mengerikan.

Hal tersebut menjadi perdebatan panas para akademisi di televisi.

“Itu bukan halusinasi. Roh itu nyata!” kata seorang komentator, seorang ahli spiritual dari Vatikan.

“Tidak,” bantah seorang ilmuwan, “Itu hanya efek gejolak hormon yang mengendalikan rasa takut kita. seperti efek hormon dopamin yang membanjiri otak pada saat kita sekarat sehingga kita merasa melihat sebuah terowongan cahaya yang nampak seperti surga.”

“Kalian telah membuka gerbang neraka! Kalian membiarkan iblis masuk ke dalam pikiran manusia, lebih mudah ... kalian membuat kita bisa berkomunikasi dengan arwah dunia lain. Dan tak semua dari mereka iyu baik,” sang ahli spiritual memperingatkan, “Camkan itu!”

Pendapat itu hanya dibalas oleh tawa membahana oleh sang ilmuwan.

Namun kemudian infeksi itu tak bisa dihentikan.

Patient zero menggila, dan setelah membunuh beberapa penjaga dan siapapun yang menghalanginya, ia berhasil kabur dan “menularkan” kemampuannya.

Tak ada yang yakin bagaimana “penyakit” itu ditransmisikan, namun banyak yang percaya ia ditularkan melalui saliva; dengan kata lain: gigitan. Pada dasarnya “ia” adalah sebuah virus, yang mampu bereplikasi tanpa henti, bahkan jikapun dirinya sendiri berkehendak untuk mati.

Virus ”indigo” itupun menular. Ke seluruh penjuru benua biru.

Semua orang, semua yang semula hidup damai tanpa mengetahui kegelisahan arwah-arwah yang melintasi dunia fana, kini memiliki mata ketiga. Virus itu mengaktifkan indra keenam mereka, mengakibatkan mereka melihat hal-hal yang sebelumnya tak mampu mereka lihat dan mendengar bisikan serta jeritan yang awalnya tak mampu mereka dengar.

Kami semua menjadi indigo.

Dan pengalaman itu, jauh lebih daripada sekedar mengerikan.

Kami mampu melihat hantu, berkeliaran bak lalat yang mengerubungi bangkai, yakni kami. Ya, bak bangkai, kehidupan kami mulai hancur. Kami mendapatkan penglihatan yang begitu mengerikan. Mayat-mayat dengan wajah dan tubuh hancur, terbakar, dan tak utuh lagi. Hantu-hantu yang menaruh dendam dan membisiki kami perintah-perintah yang mengerikan. Juga jeritan-jeritan dari arwah yang mengaku lolos dari neraka dan makhluk-makhluk mengerikan yang mengejar mereka.

Banyak yang bunuh diri karena tak tahan. Lebih banyak lagi yang membunuh atas perintah para arwah penasaran itu, untuk membalaskan dendam mereka. Dan semuanya hanya menyebabkan populasi hantu itu makin bertambah.

Wabah ini tak seperti zombie, tidak, ini lebih mengerikan.

Aku mencoba bertahan, namun keluargaku tak bisa.

Aku menyaksikan kedua orang tuaku saling membunuh, aku melihat adik termudaku bunuh diri, dan aku menutup mataku ketika adik perempuanku lebih memilih mencungkil matanya sendiri dan memasukkan batang pensil yang runcing ke telinganya agar ia tuli.

Paling tidak ia menikmati kedamaian sekarang.

Aku kini hanya mencoba melarikan diri dari semuanya.

Entah apakah ada yang masih bertahan di luar sana.

Entah apa masih ada tempat yang aman.

Dunia yang kukenal kini telah dilanda chaos, kekacauan murni.

Kini aku berdiri di puncak menara Katedral Notre Dame de la Garde, menatap ke bawah, ke kotaku yang kini dilanda kehancuran.

Aku menangis. Aku tak mampu melakukannya, namun ini harus ...

Aku tak punya jalan lain.

Keluargaku kini mengelilingiku. Tangan mereka menembus tubuhku, seolah ingin mendorongku.

Kata mereka kami adalah keluarga. Aku harus ikut bersama mereka.

Hanya satu cara untuk menghentikan semua ini.

Aku menjatuhkan tubuhku ke bawah, berharap semua ini akan berakhir.

Namun aku tahu ini takkan pernah berakhir.

 

TO BE CONTINUED

No comments:

Post a Comment