Sunday, February 7, 2016

CITY OF FEAR: CINQ (5)

 

THE WITCH TRIAL

CITY OF FEAR

Aku mengendap-endap di menara inkuisitor. Apa yang kulakukan di sini, pikirku. Namun aku tak bisa membiarkannya begitu saja. Siapapun yang ada di menara ini, ia memerlukan pertolongan. Mungkin saja itu Hazuki. Ah iya, setelah ini aku harus mencarinya. Ia sudah pernah menyelamatkan dan ini adalah saat yang tepat untuk membalas budi.

Menara itu memiliki tangga batu yang melingkar. Di ujung (entah berapa anak tangga yang sudah kutapaki) akhirnya aku menemukan sebuah sel. Ruang tahanan itu mirip dengan dimana aku disekap, hanya sepertinya kondisi di dalamnya jauh lebih baik.

“Akhirnya kau datang, Raka.” bisik suara dari dalam ruangan itu.

“Apa? Darimana kau bisa tahu namaku?”

“Masuklah!”

Karena penasaran, akupun mendobrak pintu kayu itu (umurnya sudah ratusan tahun kurasa, makanya lapuk) dan menemukan seorang gadis muda yang cantik dan berwajah eksotis berada di dalam ruangan itu.

“Siapa kau?” tanyaku. Ia berpakaian menggunakan gaun khas Maroko yang kukenal sebagai ‘kaftan’. Gaun itu membuatnya tampak seperti seorang putri yang dikurung di istana, seperti di dalam dongeng. “Dan kenapa kau ditahan di sini?”

“Namaku Gwyneth Syefira, aku seorang Moorish.” Ia memperkenalkan diri, “Mereka menelitiku, sebab itu mereka mengurungku di sini. mereka mengambil sampel DNA-ku untuk diteliti, karena kemampuanku ....”

“Kau seorang indigo?” aku menyimpulkan. “Astaga, dan gen indigo itu ... itu berasal darimu?!”

Gadis bernama Gwyneth itu mengangguk.

“Presiden Alvan yang mengurungmu?”

“Benar, mereka menganggapku berharga sehingga bahan penelitian mereka. Namun aku tahu Presiden Alvan membenciku. Dia adalah seorang rasis dan membenci keberadaan ras selain kulit putih. Kau sudah melihat bukan, tak ada ras lain di sini karena ia tak mau menyelamatkan mereka. Aku tahu, ia sangat membenci jati diriku sebagai seorang Moorish dan cepat atau lambat, ia akan membunuhku.”

“Ikutlah denganku. Aku akan pulang ke tanah airku.”

“Takkan semudah itu, Raka ...” ia mendekat dan berbisik, “Ada dendam masa lalu yang mengikutimu hingga ke sini ...”

“Apa maksudmu?” tanyaku.

Tiba-tiba beberapa tentara menyergap masuk, “APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI! TANGKAP MEREKA!!!”

***

Presiden Alvan masuk, masih mengenakan piyamanya.

“Bagaimana kau bisa keluar? Kau lebih cerdik ketimbang dugaanku rupanya.”

“Dimana Gwyneth dan teman-temanku?” aku mencoba meronta. Kedua kaki dan tanganku kini dirantai di dinding.

“Terima kasih padamu, mereka akan kubakar hidup-hidup besok di lapangan sebagai bentuk hukuman atas ketidakpatuhanmu.”

Aku meludah ke arahnya, namun ia hanya mengusap wajahnya dengan santai.

“Besok kau akan melihat dengan mata kepalamu sendiri kematian teman-temanmu.” Ia tertawa sambil melenggang pergi.”

***

Esoknya, para tentara NATO membawaku ke sebuah balkon. Dari sana, aku bisa melihat dengan jelas Gwyneth, Aulia Hazuki, serta Ryan tengah diikat di sebuah pancang kayu sementara jerami kering ditumpuk di bawah kaki mereka. Di sekeliling mereka, para penduduk memaki mereka dengan sebutan “gypsi dan penyihir”. Pemandangan ini, aku yakin, sama seperti pengadilan para penyihir pada masa abad pertengahan Eropa, dimana ribuan wanita dibakar hidup-hidup hanya karena histeria massal.

“Dimana Presiden Alvan, Mademoiselle Maryvonn»á?” tanya Jenderal Luc dengan muka tak tenang kepada Angela, sekretaris sang presiden, “Ia tak bisa membunuh orang tak bersalah seperti ini!”

“Presiden sedang tak enak badan, Jenderal. Pelayan mengatakan beliau sedang sakit demam. Kini beliau sedang beristirahat di kamarnya dan tak bisa menyaksikan eksekusi.” jawab gadis cantik itu.

“Namun hanya ia yang bisa menghentikan semua ini!!!” Jenderal Luc bersikeras. Sementara itu, para algojo bersiap menyulut api dengan obor yang mereka pegang.

“TIDAK! HENTIKAN!!!” teriakku, namun aku tak berdaya sebab aku sendiri dirantai di balkon ini.

Tiba-tiba, dengan langkah terhuyung-huyung, Presiden Alvan yang masih memakai pakaian tidurnya tadi malam, berjalan menuju ke balkon.

“Pak Presiden?” tanya Angela khawatir, “Apa Anda baik-baik saja?”

Jenderal Luc mulai mundur karena merasakan gelagat yang aneh. Perasaanku juga mengatakan ada yang tak beres.

“AAAAAAAAAA!!!” Angela langsung menjerit ketika Presiden Alvan tiba-tiba mengigit leher gadis itu. aku baru menyadari warna mata birunya kini berganti menjadi merah, seakan ia sedang dirasuki sesuatu.

Di belakangnya, muncul para pelayan pribadi sang presiden. Raungan dan teriakan mereka menggema di dalam lorong Chateau Palais de Papes. Semua orang segera berlarian panik, turun ke bawah.

Apa yang terjadi! Oh tidak ... aku baru teringat! Aku meludahinya tadi malam. Jangan-jangan ... aku tak sepenuhnya kebal. Virus itu memang tak membawa efek apapun ke tubuhku, namun bukan berarti aku tak tertular. Bagaimana jika selama ini aku adalah seorang “carrier” yang membawa penyakit ini dalam tubuhku?

Presiden melemparkan tubuh Angela ke samping dan menghampiriku dengan langkah terseok. Jenderal Luc bergerak cepat dengan melepaskan rantai yang membelengguku dan menarikku turun melalui tangga. Presiden Alvan yang berusaha menerjangku jatuh terjungkal dari balkon. Tubuhnya menghujam tanah, membuat semua orang yang tadinya menonton eksekusi menjadi panik. Namun yang lebih mengerikan, tubuh Presiden Alvan, yang semestinya mati setelah terjatuh setinggi itu, masih bisa merangkak dan meraung.

Mungkin karena tubuhnya kini dirasuki oleh sesuatu yang lain.

Di bawah, kondisi benar-benar kacau. Infeksi menyebar dengan cepat. Para warga berteriak, diiringi desingan suara tembakan. Namun kini bahkan pelurupun tak mampu menghentikan para indigo itu.

Aku segera melepaskan ikatan Ryan dan Hazuki, sementara Jenderal Luc melindungiku dari belakang dengan menembaki para indigo yang mendekat.

“Aku butuh pedangku!” seru Hazuki. Jenderal Luc pun melemparkan katana milik gadis itu dan dengan cepat, ia segera membantu membantai para indigo yang menggila itu.

Aku kemudian melepaskan ikatan Gwyneth, “Ayo, kita harus segera pergi dari sini.”

“Tidak! Kita takkan selamat, Raka!” gadis itu menatapku dengan mata sembab penuh air mata yang menggenang, “Biarkan saja aku mati di sini!”

“Tidak!” aku meyakinkannya, “Kau takkan mati! Aku berjanji! Aku akan membawamu pulang bersamaku .... AAAAAARGH!!!” tiba-tiba sebilah pedang menusuk tubuhku. Rasa sakit yang teramat dalam merambati tubuhku.

“RAKA, TIDAAAAAAAK!!!” Gwyneth menjerit. Aku menoleh dengan sisa tenagaku dan menahan napas. Di belakangku tampak sosok berbaju zirah seperti ksatria abad pertengahan. Di dadanya terdapat lambang yang tak mungkin kulupakan, sebuah tanda palang menyilang berwarna putih; salib Malta.

Semua yang terjadi pada malam itu membanjiri ingatanku.

***

“Kota ini begitu indah ya,” kataku pada Nadya ketika kami berlayar sambil menatap kelap-kelip kota Valetta saat malam. Dari lautan kami bisa melihat kubah dan menara gereja Collegiate Matrix Church of Saint Paul yang mendominasi panorama kota tersebut.

Lautan Malta cukup sepi sangat malam. Kebanyakan yacht para turis dan kapal layar para nelayan sudah bersandar di pelabuhan.

“Kau sangat romantis mengajakku berlibur seperti ini, Raka.” Nadya bersandar di bahuku, “Kira-kira jika bayi ini lahir, kita akan memberinya nama siapa?”

Aku berbisik, “Bayi itu takkan pernah lahir.”

“Apa?”

Dengan segera aku melancarkan aksi yang sudah kurencanakan dengan mengikatkan jangkar di kaki Nadya dan mendorongnya keluar dari kapal. Gadis itu tercebur ke laut dan segera tenggelam. Tangannya sejenak menggapai ke atas, namun kemudian hilang dtelan riak kehitaman.

Gelembung udara sempat muncul ke permukaan, hingga pada akhirnya lenyap ditelan kepedihan malam.

“Maafkan aku Nadya,” aku memotong tali jangkarnya, “Namun jika kau hamil, maka masa depanku menjadi taruhannya ... aku tak bisa menikah denganku sebelum aku menyelesaikan kuliahku. Aku tak bisa mengorbankan beasiswa yang susah payah kudapat ini. Maafkan aku ...”

 

TO BE CONTINUED

No comments:

Post a Comment