Sunday, February 7, 2016

CITY OF FEAR: FINALE

 

EPILOGUE OF DOOM: THE CIRCLE GAME

CITY OF FEAR

Air mata mulai mengalir di pelupuk mata Raka.

“Maafkan aku Nadya, aku ingin bertemu denganmu karena aku ingin meminta maaf ... maafkan aku ...”

Dan pemuda itupun menghembuskan napasnya yang terakhir.

***

“TIDAK! TIDAAAAAK!!!” Gwyneth menangis sambil menatap roh wanita yang mengendalikan pria di balik baju zirah itu.

“Astaga!” jerit Hazuki ketika melihat kondisi Raka, “Apa yang terjadi?”

“Kita harus segera pergi dari sini!” Ryan dari kejauhan melihat singanya tengah memangsa indigo yang menjadi korbannya.

“Hei, ke sini! jangan makan itu!” perintah Ryan.

Tiba-tiba Ryan melihat sesuatu. Mata singa peliharaannya kini menjadi merah.

Dan singa itupun menerkamnya.

***

“Astaga!” jerit Hazuki dengan ngeri, “Ryan!”

“Virus itu sepertinya bermutasi dan bisa menjangkiti hewan sekarang. Cepatlah, di sana ada helikopter evakuasi. Pergilah ke markas SHAPE di Belgia dan mereka akan membawa kalian pergi dari Eropa.”

“Tapi ... aku sudah tak punya tujuan lagi ...” Gwyneth menangis sambil menatap jenazah Raka.

“Ikutlah aku pulang ke Jepang,” ujar Hazuki, “Semua akan baik-baik saja!”

“Sekarang pergilah! Helikopter akan segera berangkat dengan sisa penduduk yang bisa diselamatkan!” perintah Jenderal Luc, namun ia sendiri bergerak menjauh.

“Bagaimana dengan Anda?” tanya Hazuki.

“Aku tak bisa pergi! Aku harus mengatasi kondisi di sini. Cepatlah kalian harus pergi sebelum helikopternya lepas landas! CEPAT!!!”

Hazuki segera menggamit lengan Gwyneth sementara tangannya yang satunya menebas tubuh indigo yang menghalangi langkah.

“Ah!” jerit Hazuki tertahan ketika darah para indigo itu terpercik ke matanya.

“Apa yang terjadi?” tanya Gwyneth dengan cemas.

“Tak apa-apa,” Hazuki mengusap matanya, “Aku hanya sedikit kelilipan. Ayo kita harus pergi!”

***

Pesawat yang mereka tumpangi akhirnya tiba di bandara Narita, Jepang. Aulia Hazuki dan Gwyneth melewati keamanan bandara dengan terburu-buru.

“Hazuki, kau tampak pucat. Apa kau baik-baik saja?” tanya Gwyneth dengan cemas.

“A ... aku baik-baik saja ...” jawab Hazuki dengan terbata-bata.

Gwyneth menyentuh tangan gadis itu, “Tubuhmu juga panas. Kurasa kau harus segera ke rumah sakit ...”

Tiba-tiba sensor yang dilewati Hazuki menyala. Rupanya bandara itu menerapkan sensor panas yang akan langsung menyala apabila panas tubuh penumpang melebih normal, sebuah sistem yang dipasang sejak merebaknya wabah flu burung dan SARS.

“Berhenti di sana!” seru para petugas keamanan. Mereka langsung meringkus gadis itu.

Hazuki berusaha memberontak, “Lepaskan aku! Lepaskan!!!” gadis itu terbatuk-batuk. Para penumpang yang ada di sekitarnya segera berkerumun untuk melihat apa yang tengah terjadi.

“Hazuki!” jerit Gwyneth ketika para penjaga keamanan itu ikut menangkapnya, “HAZUKI!!!!”

***

Prefektur Saitama, Jepang

Hari ini aku mengalami sesuatu yang aneh ketika berada di bandara. Ada wanita aneh yang terus menerus berteriak. Orang-orang mengatakan ia sakit, namun ia terlihat sehat bagiku (terutama karena ia bisa melumpuhkan beberapa satpam yang semuanya laki-laki dengan tangan kosong), kecuali bagian dimana ia terus-menerus terbatuk. Ada wanita lainnya yang bersamanya yang terus menangis dan berteriak dalam bahasa yang tak kumengerti. Aku terpaksa menembus kerumunan orang untuk melihatnya, namun kemudian akupun pergi. Aku harap mereka berhasil menangkap wanita itu.

Sudah kuduga pergi keluar adalah ide yang buruk. Sudah setahun terakhir aku menjadi seorang “hikikomori” dan tak pernah pergi keluar rumah. Sekali saja aku pergi, ada kejadian aneh seperti itu. Aku benar-benar menyesal. Namun yang berkesan adalah ketika dalam perjalanan pulang, aku melihat beberapa anak bermain “Kagome Kagome”, membuatku teringat akan kenangan masa kecilku bersama sahabat-sahabatku yang kini telah menjauh dariku.

Namun keesokan harinya, ada hal yang aneh terjadi padaku. Saat tengah bermain game seperti biasa, aku bisa melihat kembali temanku yang sudah meninggal. Pertama kupikir itu karena rasa bersalahku yang menjelma menjadi halusinasi. Namun lama kelamaan, aku menyadari bahwa kehadirannya nyata. Ia mulai berbicara padaku, berkomunikasi padaku, dan memintaku untuk melakukan sesuatu.

Aku tak bisa menolaknya, sebab ia cantik. Sangat cantik, sama seperti terakhir kali aku melihatnya.

Ah maaf, aku belum memperkenalkan diriku.

Panggilanku Jintan, sedangkan nama temanku Meiko Honma. Tetapi aku biasa memanggilnya Menma.

 

THE END

6 comments:

  1. Endingnya... :v
    Keren ceritanya bang dave... Virus indigo...
    Gk prnah kepikiran ane...
    Top dah... :) b

    ~Venzuu~

    ReplyDelete
  2. Jadi Jintan dapet ngeliat menma karena virus ini

    ReplyDelete
  3. bisa aja dah bang dave sampe ngaitin nih cerbung ke cerita ano hana

    ReplyDelete
  4. Virus indigo ya? Klo indigo beneran bisa nular kayak virus, kasian orang2 yg ketularan.. skrg ajah aku da merasa bersalah, karna anak sulungku ternyata juga indigo, sama kayak aku..

    ~dee~

    ReplyDelete