Sunday, February 7, 2016

CITY OF FEAR: QUATRE (4)

 

CHATEAU OF INQUSITORS

CITY OF FEAR

Dinding benteng kota Avignon sudah terlihat di depan mata kami. Kendaraan tempur baja hingga tank-tank artileri terlihat berjejer di depan Chateau Palais de Papes. Tak terlihat pasukan, pasti mereka juga gentar dengan apa yang berkeliaran di luar sana.

“Siapa kalian? Berhenti atau kami akan tembak!” terdengar suara dari atas kami. aku mendongak dan melihat sebuah megaphone di atas gerbang.

“Tenanglah, kami bukan indigo seperti mereka. Kami masih sehat.”

“Iya, tolong kami!” sambar Ryan, “Izinkan kami masuk!”

Tiba-tiba gerbang membuka dan pasukan berseragam NATO keluar, seragam yang konon dijahit dan ditenun di negara tanah airku.

Seorang pria keluar. “Namaku Jenderal Luc de Leonore. Aku menjabat sebagai SACEUR. Jelaskan siapa kalian dan bagaimana kalian bisa tak tertular!”

SACEUR, ah, dari penampilannya ia memang pantas menjadi seorang SACEUR. SACEUR (Supreme Allied Commander Europe) adalah julukan bagi komandan tertinggi NATO di Eropa. Sedangkan markas mereka, SHAPE (Supreme Headquarters Allied Power Europe) berada nun jauh sana di Casteau, Belgia. Yah, mereka semacam SHIELD dunia nyata.

Oh ya, aku lupa menyebutkan para prajurit itu masih curiga dan menodongkan senjata ke arah kami.

“Aku Aulia Hazuki dan dia Ryan van Claude. Kami berdua tak terjangkit virus karena kami bisa membela diri, namun dia ...”

“Namaku Raka, seorang mahasiswa Indonesia yang bersekolah di Naples, Italia. Aku ... kurasa aku kebal terhadap virus indigo.”

“Kebal?” jenderal itu tampak berpikir, “Menarik sekali.”

Dia menatap kami bertiga sejenak lalu angkat bicara, “Biarkan mereka masuk.”

***

Aku sudah sering melanglang buana mengelilingi Eropa. Mulai dari Sevilla , kota penginggalan Muslim di daratan Andalusia, Spanyol hingga ke Verona, Italia, tempat asal Romeo dan Juliet, semua telah kujelajahi. Namun tetap saja, kota-kota medieval berbenteng besar seperti Avignon masih membuatku terpukau dan tak henti berdecak kagum. Benteng ini jauh lebih besar ketimbang yang aku lihat di Avila maupun di Talinn, membuatku berpikir, bagaimana mereka membangun struktur seperti ini ratusan tahun lalu, dengan pengetahuan dan teknologi yang begitu minim? Kurasa kemauan mereka yang melatarbelakanginya.

“Aku akan mempertemukanmu dengan Presiden Alvan Danistra dan sekretarisnya, Mademoiselle Angela Maryvonnȇ.”

Presiden?” tanyaku gugup. Aku tak menyangka akan bertemu dengan presiden.

Di balik dinding benteng yang dulu pernah menjadi istana Paus ini, aku melihat ada banyak manusia bergerombol, mencoba hidup secara normal.

“Apa kau melihat ada yang aneh di sini, Raka?” Hazuki membisikiku ketika kami berjalan melewati mereka dan mata semua penduduk terpaku ke arahku.

“Tidak. Mereka tampak normal. Ada apa memangnya?”

“Tidakkah kau lihat ras lain di sini?”

Aku mencoba mengamati dan ternyata benar, semua orang di sini berkulit putih. Tak ada satupun orang kulit hitam maupun Asia di sini.

“Aneh bukan, jika ini adalah tempat pengungsian, bukannya harusnya lebih heterogen.”

Namun aku tak begitu memikirkannya. Mungkin saja yang kami lihat barulah orang-orang kulit putih karena mereka memang ras dominan di Eropa.

“Jadi dia adalah orang yang kebal terhadap virus tersebut?” tanya seorang pria bermata biru dan bertubuh tegap. Ia memakai jas hitam dan dasi dengan warna serupa. Rambutnya putih keperakan. Aku tak bisa menebak, apakah itu karena usia tua ataukah memang warna alaminya demikian. Sementara itu di belakangnya, seorang gadis cantik berambut pirang dan bertubuh ramping mengikutinya. Ia pastilah Angela Maryvonnȇ, sekretaris pribadi sang presiden.

Presiden menyalamiku dan akupun memperkenalkan diri, “Senang bertemu anda Pak Presiden, saya Raka.”

“Baiklah kalau begitu,” ia menggenggam tanganku dengan sangat erat, seolah tak berniat melepaskannya, “Persiapkan dia untuk diotopsi!”

“Otopsi?” teriakku. Dua serdadu segera menangkapku. Hazuki dan Ryan yang berusaha melawan pun segera diringkus oleh tentara lainnya.

“Tidak, tunggu! Apa yang Anda lakukan!” Jenderal Luc berusaha membantu, “Dia datang ke sini untuk menolong kita!”

“Dan itulah yang akan dia lakukan, Jenderal, menolongku!” balas sang presiden, “Sudah lama aku mengidamkan menjadi penguasa tunggal Eropa. Kini setelah memiliki penawar virus yang sudah mengacaubalaukan seluruh benua ini, maka pemimpin-pemimpin mulai dari Skandinavia hingga Roma takkan mampu menolak kepemimpinanku hahaha.”

“Tapi, dia hanya seorang anak muda ... apa anda benar-benar akan membunuhnya?” Jenderal Luc melihat ke arahku dengan tatapan tak tega.

“Justru dia akan menjadi pahlawan penyelamat Eropa, suatu kebanggaan baginya, bukan? Para dokter harus mencari tahu rahasia di balik kekebalannya. Untuk itu, dia harus dibedah dan diotopsi. Sekarang, cepat bawa dia ke sel tahanan sementara menunggu para dokter kita bersiap-siap!”

“Tidak!” aku meronta, “Bukan ini yang aku inginkan!”

***

Aku berjalan mondar-mandir di selku, sebuah ruangan tahanan yang sepertinya sudah ada sejak Zaman Kegelapan Eropa dimana benteng ini dibuat. Apa aku akan mati konyol di sini? Manusia di sini bahkan jauh lebih beringas ketimbang zombie-zombie indigo di luar.

Aku menatap ke luar jendela penjaraku.

Ada kedipan aneh di sana, di salah satu menara yang dari apa yang kudengar dari para penjaga, disebut menara inkuisitor. Pada menara itulah konon, para inkuisitor melakukan interogasi kepada para tersangka yang dianggap penyihir, tentu saja dengan alat-alat penyiksaan zaman pertengahan yang amat mengerikan.

Cahaya menara puri itu berkedip dengan pola tertentu, tiga kali cepat dan tiga kali lambat.

Aku mengerti.

Itu adalah sebuah kode morse.

SOS.

Siapa yang dikurung di sana?

Tba-tiba aku mendengar langkah kaki. Aku segera menunduk dan pura-pura tidur. Apakah itu para serdadu yang hendak membawaku ke ruang otopsi? Seorang penjaga berhenti di depan pintu kurunganku dan dentingan kunci yang bertemu dengan gembok terdengar, kemudian ia berjalan pergi.

Apa yang ia lakukan?

Aku bangkit dan berjalan mendekati pintu. Aku tersentak. Gembok pintu tahananku kini terbuka!

Aku membukanya dan melihat ke lorong. Tak ada satupun penjaga.

Kenapa mereka melepaskanku? Apakah Jenderal Luc yang menolongku? Tadi ia tampak bersimpati terhadapku.

Akupun menatap ke arah luar jendela, dimana lampu itu masih berkedip di menara inkuisitor.

Apa yang harus kulakukan?

Haruskah aku kabur ataukah menolongnya?

 

TO BE CONTINUED

No comments:

Post a Comment