Sunday, February 7, 2016

CITY OF FEAR: DEUX (2)

 

SUMMER IN AVIGNON

CITY OF FEAR

Aku tahu telah memasuki wilayah Côte d’Azur begitu melihat hamparan pegunungan Chaîne des Alpilles dengan tamparan sinar matahari yang membekas di beningnya permukaan sungai Rhône. Kota Avignon, permata daratan Provence dari kejauhan tampak di kaki pegunungan, beradu dengan rerumputan tanah yang masih basah dibasuh hujan malam tadi. Langit masih membentang cerah dengan awan putih bak layar kapal yang tengah berenang di langit yang sebiru laut.

Aku ingat kota Naples, tempat dimana aku tinggal, kini sudah rata dengan tanah. Dermaganya kini sudah hancur dengan jejak darah dan bau hangus dimana-mana. Kotanya telah lenyap dalam kobaran api dan membusuk bersama ribuan mayat penduduknya. Bangunan-bangunan tuanya kini telah menjelma menjadi pekuburan massal. Lautpun menjadi makam bagi kapal-kapal yang terombang-ambing tanpa nahkoda.

Aku berusaha menghapus bayangan itu dari benakku.

Kota yang dekat dengan laut selalu hancur lebih dulu. Karena dari situlah virus itu menular. Dan bandara ...

Aku bergidik. Apa ada bandara di dekat Avignon? Apa virus itu telah mencapai kota tersebut?

Mobilku kujalankan dengan pelan. Tak ada gunanya mengebut dan menghabiskan sisa bensinku. Aku sudah menempuh perjalanan puluhan kilometer dan benteng Avignon masih terlihat kecil di pandangan mata. Konon hanya tinggal dua tempat aman di Eropa, atau paling tidak di Prancis, yakni Carcasonne dan Avignon. Aku telah mendengar berita bahwa wabah itu tak menular hingga kota Carcasonne karena ada benteng kuat yang melindungi semua penjuru kota dari para “indigo” yang menggila itu. Namun semua itu sia-sia. Para penduduknya memang bisa melarikan diri dari wabah indigo, namun wabah lain muncul.

Kelaparan.

Dalam waktu singkat persediaan makanan di kota tersebut langsung habis.

Para penduduk kota menjadi panik, terperangkap. Sementara di luar, manusia-manusia indigo yang menggila siap mencabik-cabik mereka. Akhirnya, mereka yang tinggal di dalam benteng mulai kelaparan dan putus asa. Wabah kanibalisme menjalar, menghancurkan seisi kota dalam kekacauan. Terakhir kali, terlihat asap yang amat tebal dari Carcasonne. Puluhan ribu warga yang berlindung di dalamnya diperkirakan mati.

Menambah jumlah hantu saja, pikirku.

Setelah Prancis, negara-negara lainnya pun merasakan dampaknya. Aku ingat headline koran terakhir yang aku baca: “Plague in Prague”. Wabah itu dengan cepat telah merambat hingga ke Cekoslovakia dan negara Eropa Timur lainnya. Mungkin kini wabah itu tengah memangsa negara-negara Balkan, bahkan mungkin telah mencapai Asia.

Ah, seharusnya aku tak terlalu memikirkannya. Untuk bersantai sejenak, akupun menyalakan pemutar musik dan memainkan sebuah lagu, “Summer in Paris” oleh Anggun.

“Summer in Paris ... comme un ȇtȇ a Paris ... I miss that kiss .... in Paris ...”

Aku membanting setirku ke kanan ketika tiba-tiba melihat seorang gadis di tengah jalan.

“CIIIIIIIIIIIT!!!”

Mobilku kini teronggok di tepi jalan. Jantungku masih berdegup kencang akibat kejadian tadi. Akupun mendongakkan kepalaku dari setir dan menatap gadis itu.

Tidak, wajahnya tak tampak gila seperti para indigo itu. Ia terlihat tenang dengan sedikit kecemasan terlukis di wajahnya, namun juga seutas senyum lega melintas di bibirnya.

Ia menghampiriku dan mengetuk jendela mobilku. Dari bahasa bibirnya aku bisa membaca kata: “Tolong.”

Aku memberanikan diri membuka kaca jendela dan bertanya.

“Siapa kau?” tanyaku curiga.

“Aku Venus Valverde dari Piedmont, Italia.” jawabnya dalam bahasa Italia yang kumengerti (aku sudah dua tahun belajar dan tinggal di Italia). “Kemana kau akan pergi?”

“Avignon.” jawabku singkat.

“Sempurna. Bisakah aku menumpang?”

Aku menatapnya curiga. Namun apa yang bisa dilakukan gadis bertubuh mungil seperti dia? Dia juga tak tampak gila seperti orang-orang lainnya.

“Baiklah.” ucapku. Lagipula aku memang butuh teman. Sejauh ini dia satu-satunya orang “normal” yang kutemui sepanjang perjalanan ini. Aku membuka pintu dan iapun masuk dengan wajah girang.

“Terima kasih!” kata Venus.

“Bagaimana kau bisa melakukannya?” tanyaku ketika mobil kembali melaju.

Dia menatapku, “Maksudmu?”

“Kau tahu kan apa yang terjadi di luar sana? Bagaimana kau bisa setenang itu? Apa kau tak melihat ataupun mendengar mereka?”

“Indigo maksudmu,” gadis itu menghela napasnya, “Aku tak takut pada mereka. Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

“Bukan orang-orang gila itu, tapi ‘mereka’.” Aku mencoba memperjelas.

“Oh, hantu maksudmu?” jawabnya enteng, “Aku selalu melihat dan mendengar mereka. Di padang ini jauh lebih sepi, namun aku tetap merasakan mereka. Yang jelas aku sudah terbiasa.”

“Apa maksudmu?”

Dia menatapku, “Aku sudah menjadi indigo jauh sebelum kiamat ini terjadi.”

Kiamat. Ya ia mendeskiripsikan kondisi yang menimpa dunia ini dengan amat tepat – dunia yang kini menjelma menjadi realm post-apokaliptik.

“Itu masuk akal,” kataku membenarkan, “Sebagian besar orang yang terjangkit virus indigo menjadi gila karena tak tahan dengan semua hal mengerikan yang datang tiba-tiba. Sangat unik kau bisa bertahan dari semua ini.”

“Jangan salah, menjadi indigo bukanlah hal yang menyenangkan.” Ia mulai bercerita, “Masa kecilku amat mengerikan. Monster, hantu, iblis, aku melihat semuanya. Namun aku sadar, jika kita mengabaikan mereka, maka merekapun akan mengabaikan kita.”

“Namun butuh waktu untuk belajar mengabaikan mereka, bukan? Para indigo baru itu pasti tak sempat, sehingga dengan cepat mereka kehilangan akal sehat mereka.”

“Lalu kau sendiri? Bagaimana kau bisa bertahan?”

Aku tertawa. “Entahlah. Salah satu indigo jadi-jadian itu mengigitku, namun aku tak berubah menjadi mereka.”

Ia menatapku dengan heran, “Kau kebal?”

I don’t know,” aku mengangkat bahuku sambil terus memegang kemudi, “Mungkin saja. Aku tak bisa melihat ataupun mendengar mereka, jadi aku santai saja, walaupun ....”

“Walaupun?” ia penasaran.

Aku menatapnya sebentar, lalu kembali memusatkan perhatian pada jalanan, “Walaupun kadang aku berharap untuk memilikinya. Kau tahu, kemampuan indigo, berkomunikasi dengan yang mati.”

“Kau pernah kehilangan seseorang?” tanya Venus penuh selidik.

“Kekasihku, Nadya Paramitha. Sekitar setahun lalu, jauh sebelum wabah ini terjadi. Kecelakaan waktu kami berlayar di Valetta, Pulau Malta. Ia terjatuh ke laut dan jenazahnya tak pernah ditemukan.”

Terdengar jelas isakan dalam suaraku, walau aku mencoba menyembunyikannya.

“Aku ikut berduka cita, namun apabila gadis itu meninggal dengan damai,” Venus menambahkan, “Maka kemungkinan ia sudah tak terjebak lagi di dunia ini dan pergi ke tempat lain.”

“Kurasa tidak,” bantahku, “Ia pasti masih ada di sini. Masih ada urusannya yang belum terselesaikan.”

Entahlah, mungkin itulah yang kuinginkan? Berharap bahwa ia masih ada di sini, supaya aku bisa menemuinya lagi?

“Omong-omong aku tadi tak tahu siapa namamu?” tanya gadis itu, mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Raka Veraldi.” Aku menatapnya, “Panggil saja aku Raka. Aku adalah seorang mahasiswa asal Indonesia. Aku mendapatkan beasiswa di fakultas ekonomi Naples Eastern University. Jika tak ada kekacauan ini, seharusnya aku meneruskan gelar master ke Stockholm, Swedia akhir tahun ini ...”

“Raka ... kurasa kita harus berhenti di sini ...” potongnya.

“Kenapa?’ tawaku, “Katanya kau tak takut hantu?”

“Bukan hantu ...” tunjuknya, “Tapi mereka ...”

Dan aku melihat, di balik perbukitan, satu demi satu manusia dengan pakaian compang-camping dan wajah tak waras muncul.

Para indigo.

Mereka mengepung mobil kami.

 

TO BE CONTINUED

No comments:

Post a Comment