Friday, November 20, 2015

CITY OF ASHES: EPISODE 5 (ORIGINAL SERIES)

 

PART ONE: SHANDI

CHAPTER 5

  CITY OF ASHES

THE SAINT OF VAMPIRE HUNTRESS

Copyright by: Dave Cahyo

 

“Apa kau melihatnya, Gesta?” Dynda tercengang melihat apa yang terekam di dalam kamera Gesta. “Makhluk apa itu?”

“Yang jelas itu bukan manusia! Dan itu makin menguatkan alasan kita untuk segera meninggalkan kota ini!” seru Gesta ketakutan.

“Baiklah, kau ambil mobilnya. Kita akan segera pergi dari sini!”

***

 

“Kak Shandi!!!” jerit Lana. Ia bergegas menghampiri gereja yang terbakar itu, namun Otong menghentikannya.

“Percuma, Lana!” cegah Otong, “Kau bisa mati jika kembali ke sana.”

Lana menoleh dan melihat wajah ketakutan Tieya yang tengah memeluk Fino.

Tiba-tiba sesosok makhluk bersayap muncul dan mencengkeram kedua lengan Lana.

“Kyaaaaaa!!!!” jerit Lana. Otong berusaha melepaskan jeratan kaki manusia kelelawar itu, namun percuma.

Lana mendongak ke atas, melihat wajah menyeringai dari Andrea.

“Dasar makhluk busuk, terima ini!!!” Lana mengeluarkan sebotol vervain pekat dari dalam sakunya dan segera menyemprotkannya ke wajah vampir itu.

“AAAAARGH!!!!” teriakan Andrea segera menyeruak. Ia melepaskan Lana hingga ia terjerembap jatuh ke tanah.

Andrea merasa wajahnya teramat pedih hingga ia sendiri tersungkur ke atas tanah.

“Aaaaargh! Apa ini! Aku tak pernah merasa sengatan vervain seperih ini!!!” jeritnya.

“Ini vervain murni! Wajahmu bahkan takkan sembuh dari bekas luka itu!”

Andrea menatap ke pecahan kaca patri yang terlontar di sampingnya akibat ledakan itu. Ia bisa melihat wajah cantiknya kini meleleh.

“Ku ... kurang ajar! Akan aku habisi kau!!!” Andrea mengeluarkan cakar-cakar tajamnya dan segera menyerang Lana. Namun tiba-tiba anak-anak panah melesat dan menembus tubuh wanita kelelawar itu.

“AAAAARGH!!!” lagi-lagi Andrea berteriak kesakitan. Perasaan Lana langsung melonjak kegirangan begitu melihat siapa yang telah menolongnya.

“Kak Shandi!!!”

Shandi kembali menembakkan anak-anak panah itu ke tubuh Andrea. Vampir perempuan itu merasa kewalahan dan akhirnya memutuskan untuk terbang, melarikan diri menembus kegelapan.

“Wow!” seru Otong, “Darimana kau dapat senjata sekeren itu?”

“Pastur Wilson memberikanku sebelum ia meledakkan gas di gereja.” jawab Shandi dengan wajah sedih, “Panah ini terbuat dari batang vervain sehingga dapat melukai para vampir.”

Shandi memunguti anak-anak panahnya yang terjatuh setelah menembus tubuh Andrea. “Kita harus segera pergi dari sini! Vampir-vampir itu masih ada di belakang kita!”

***

 

Dynda merasa khawatir dengan cara Gesta mengemudi yang ugal-ugalan.

“Hati-hati Ges! Sangat gelap di luar sana! kau bisa menabrak sesuatu!”

“Tenang saja, Dyn. Aku sudah biasa!”

Dynda menoleh keluar dan melihat sesuatu. Ada beberapa orang, ah bukan, pastinya ada 5 orang yang tengah berlari dari sesuatu. Salah satu dari mereka menembakkan panah ke arah orang-orang yang mengejar mereka.

“Lihat! Masih ada yang selamat! Kita harus menolong mereka!” seru Dynda.

“Itu hanya akan memperlambat kita, Dyn!”

“Tidak! Kita harus menolong mereka!” Dynda bersikeras. Gesta akhirnya menghentikan mobilnya. Gadis itu segera keluar dari mobil.

“Hei, kalian! Cepat ke sini!!!”

Lana merasa lega melihat ada mobil yang berhenti untuk membantu mereka.

Lana dan rombongannya segera menghampiri mobil itu, sementara Shandi mulai kewalahan mengatasi semua vampir yang tengah mengejar mereka.

“Hei, aku kenal kau!” kata Otong tiba-tiba, “Kau kan penyiar yang sering muncul di televisi itu?”

“Minta tanda tangannya nanti saja!” Dynda membuka pintu belakang van-nya, namun terkejut begitu menyadari bahwa terlalu banyak peralatan di sana sehingga takkan muat bila dimasuki para penyintas tersebut.

“Ayo, bantu aku mengeluarkan alat-alat ini!” kata Dynda pada yang lain.

“Hei!” protes Gesta dari depan. “Itu peralatan seharga ratusan juta!!!”

Namun Dynda tak mempedulikannya dan terus membanting alat-alat audio dan video itu keluar. Dynda segera menyuruh Lana, Tieya, Otong, Fino, dan Shandi untuk masuk ke dalam. Lalu ia kembali ke kursi depan.

“Ayo, cepat berangkat!!!”

Mereka melaju meninggalkan vampir-vampir itu.

“Fiuh, syukurlah,” Otong menghela napas lega, “Kurasa vampir-vampir itu belum belajar terbang jadi kita aman.”

“Kami ingin ke rumah sakit,” kata Lana pada Dynda, “Anak ini membutuhkan pertolongan medis sesegera mungkin!”

“Rumah sakit? Baiklah, kurasa ada rumah sakit bagus di dekat UGM.” jawab Dynda.

“Apa?” Gesta kembali tak setuju, “Kita kan tadi mau keluar dari kota ini .... AAAAAAAA!!!!”

Tiba-tiba sesosok makhluk bersayap muncul di samping mobil mereka, merobek pintu mobil, dan merenggut Gesta dari kursi pengemudi.

“Gesta! Tidaaaaak!!!” jerit Noe. Ia berusaha mengambil alih kemudi namun terlambat, mobil itu keburu kehilangan kendali dan menabrak pohon.

“BRAAAAAAKKK!!!”

Lana berusaha bangun. Kepalanya terasa berkunang-kunang. Ia melihat yang lain tak sadarkan diri.

“Fino? Kak Tieya? Otong? Mbak Dynda?” panggilnya.

Tiba-tiba sesuatu mencengkeramnya dan menariknya keluar dari mobil.

Lana menjerit dan kembali berhadapan dengan wajah Andrea yang kini buruk rupa.

“Kau ... kau telah merusak wajahku! Kau akan membayarnya dengan darahmu!”

Andrea langsung menghujamkan taring-taringnya ke leher Lana.

“Tidaaaak!!!” seru Shandi yang melihat kejadian itu. Ia langsung mencabut salah satu anak panahnya dari quiver-nya [quiver: tempat menaruh anak panah].

Namun hal yang tak terduga terjadi. Begitu taring Andrea menyentuh darah Lana, ia malah menjerit kesakitan.

“Aaaaargh!!! Tidak!!! Tidak mungkin!!!!” jeritnya. Ia langsung melemparkan tubuh Lana menjauh.

Andrea tampak kesakitan. Lana yang jatuh tersungkur mendongak kebingungan, tak mengerti apa yang terjadi.

“KAU! KAU ADALAH DARAH SUCI!!!”

***

 

Foo segera terbangun dan membuka matanya. Dengan telepati ia menghubungi keempat vampir yang lain.

“Nocha.”

“Bram.”

“Nino.”

“Juliana.”

“Darah Suci telah ditemukan!”

***

 

Seorang pria berjubah hitam mengawasi mereka dari kejauhan. Ia menatap Lana, yang sama sekali tak menyadari kehadirannya.

“Darah Suci telah bangkit.” Ia tersenyum.

“Ini pasti akan menjadi sangat menarik.”

 

TO BE CONTINUED

6 comments:

  1. Darah suci maaaann :") nice story! semangat ya buat penulisnya ^^

    ReplyDelete
  2. Paan sih darah suci :(. Kenapa berujung gue ngehnya ke sinetron sih bang :(. Plis jgn lama2 posting lagiii :))) *tetepkepo

    ReplyDelete
  3. Ganteng ganteng Srikayaaa kwkkwkwkwkw

    ReplyDelete
  4. aawww... darah perawan... *ngacai*

    ReplyDelete